• Khairul Mufid Jr

    Lahir di Sumenep-Madura Pada Kalender 16 Februari 1994, Sekarang Tinggal di Yogyakarta dan Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogakarta. Biasa menulis di media, seperti Jawa Pos, Suara Karya, Lampung Post, Koran Jakarta, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Tribun Jogja, Solo Pos, Riau Pos, Analisa, dll.

    Read More
  • Khairul Mufid Jr

    Lahir di Sumenep-Madura Pada Kalender 16 Februari 1994, Sekarang Tinggal di Yogyakarta dan Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogakarta. Biasa menulis di media, seperti Jawa Pos, Suara Karya, Lampung Post, Koran Jakarta, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Tribun Jogja, Solo Pos, Riau Pos, Analisa, dll.

    Read More
  • Khairul Mufid Jr

    Lahir di Sumenep-Madura Pada Kalender 16 Februari 1994, Sekarang Tinggal di Yogyakarta dan Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogakarta. Biasa menulis di media, seperti Jawa Pos, Suara Karya, Lampung Post, Koran Jakarta, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Tribun Jogja, Solo Pos, Riau Pos, Analisa, dll.

    Read More
  • Khairul Mufid Jr

    Lahir di Sumenep-Madura Pada Kalender 16 Februari 1994, Sekarang Tinggal di Yogyakarta dan Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogakarta. Biasa menulis di media, seperti Jawa Pos, Suara Karya, Lampung Post, Koran Jakarta, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Tribun Jogja, Solo Pos, Riau Pos, Analisa, dll.

    Read More
  • Khairul Mufid Jr

    Lahir di Sumenep-Madura Pada Kalender 16 Februari 1994, Sekarang Tinggal di Yogyakarta dan Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogakarta. Biasa menulis di media, seperti Jawa Pos, Suara Karya, Lampung Post, Koran Jakarta, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Tribun Jogja, Solo Pos, Riau Pos, Analisa, dll.

    Read More
  • Khairul Mufid Jr

    Lahir di Sumenep-Madura Pada Kalender 16 Februari 1994, Sekarang Tinggal di Yogyakarta dan Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogakarta. Biasa menulis di media, seperti Jawa Pos, Suara Karya, Lampung Post, Koran Jakarta, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Tribun Jogja, Solo Pos, Riau Pos, Analisa, dll.

    Read More
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 November 2017

Mandela adalah Simbol Perlawanan Apartheid Afrika


Nelson Mandela adalah sosok dan simbol perlawanan terhadap penindasan dan diskriminasi Afika Selatan. Perjalanan hidupnya menuju kebebasan luar biasa, seperti roller coaster setelah 27 tahun di tahanan kelompok apartheid. Hal ini yang membuat banyak orang terkesan kepadanya karena keberhasilan rekonsiliasi atau perdamaian yang telah dilakukannya atas konflik atau perdamaian Afrika Selatan.

Sistem apartheid di Afrika Selatan begitu memprihatinkan. Contohnya struktur apartheid pada pabrik senjata yang tangguh dari hukum-hukum diskriminatif dan rasial. Pada awal tahun 1950-an, Group Areas Act memaksa orang kulit hitam untuk tinggal di tempat terpisah, daerah yang dirancang dengan kaku. Dalam sektor pendidikan juga demikian, pendidikan pemuda kulit hitam sangat tragis, ketika arsitek apartheid, Verwoerd, memperkenalkan Bantu Education Act tahun 1953, yang menciptakan sistem pendidikan inferior berbasis silabus rendahan yang memandang bangsa Afrika hanya sebagai pemanah kayu dan pembawa air (hal, 117).

Dampak sistem aparheid juga sampai pada perempuan Afrika. Apartheid terimplementasi di ranah pribadi, yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari semua orang kulit hitam. Hal tersebut adalah seumber kekacauan yang imbasnya pada kehidupan pribadi,bahkan meluas ke ranah seks dan agama. Orang kulit hitam dilarang kawin dengan orang kulit putih, atau pelarangan perkawinan dan aktivitas seks antarras.

Maka dengan praktek klasifikasi dan diskrimasi berlebihan tersebut, telah meondorong Mandela beserta partai ANC (African National Congress) berjuang menghapusnya dari “Negara Pelangi” tersebut. Dalam laku praksis, Mandela pernah menjadi koordinator Kampanye Penentangan besar-besaran yang terjadi pada tahun (1952) melawan hukum yang tidak adil. “Pemuda yang mencintai kebebasan semua ras di Afrika Selatan seharusnya bergabung dalam pertarungan atas nama perdamaian dan kebebesan” begitulah cara Mandela memompa kesadaran dan dukungan rakyat.

Pada tahun 1955 sebelum dipenjara oleh kelompok apartheid, Mandela juga aktif menulis artikel di beberapa media massa dan ANC. Tulisan yang sedikit menyentil pemerintah adalah “People are Destroyed” atau Rakyat Dihancurkan. Dalam artikelnya, ia dengan jelas membuat sketsa siksaan kehidupan bangsa Afrika yang dikebumikan ke ladang kerja penjara (hal, 127).

Pada tanggal 05 Desember 1956, Nelson Mandela ditangkap beserta rekan perlawanannya, polisi keamanan telah melakukan pengkhiatan besar. Namun, di dalam penjara tidak membuatnya diam saja. Perlawanannya terdiri dari banyak bentuk: mempersatukan, memberi inspirasi, dan bertindak sebagai juru bicara untuk lainnya; menentang rasisme dan kekejaman adalah laku tidak diam meski berada di dalam sel berukuran tidak lebih dari enam kaki persegi.

Nelson Mandela mampu mengatasi segala hambatan kaku yang muncul dari paham rasisme apartheid yang jahat, dan kepahitan hebat yang ditimbulkannya terhadap banyak orang. Meskipun kekuatan global dan nasional menunda realisasi mimip-mimpinya, Mandela tetap aktif bahkan setelah jabatannya sebagai presiden selesai, dia tetap aktif pada usia hingga akhir 80-an untuk berbicara tentang hak asasi manusia dan tindakan melawan masalah sosial yang akut.


Judul Buku    : Nelson Mandela
Penulis           : Peter Limb, Penerjemah Eka Oktaviani
Cetakan         : I: September 2017
Penerbit         : BASABASI
ISBN              : 978-602-6651-38-9
Tebal Halaman: 307
Peresensi       : Khairul Mufid Jr*

Share:

Nasionalisme Turki di Ujung Tanduk

Pada perayaan 10 tahun berdirinya Republik Turki (29 Oktober 1933), Presiden dan suksesor sekulerisme Turki Mustafa Kemal Pasa Ataturk mengucapkan kalimat: Ne Mutlu Turkum Diyene (Betapa Bahagianya Seorang yang Menyebut Dirinya; Aku Orang Turki). Kalimat ini menjadi candradimuka dan fondasi nasionalisme Turki yang tidak bisa ditawar. Selain kalimat tersebut, Renklerimizde, dillerimizle, kulturlerimizle biz bir olduk, biz kardes olduk  (dengan warna-warna kita, dengan bahasa-bahasa kita, dengan budaya-budaya kita, kita satu, kita bersaudara) adalah kalimat kedua untuk sebuah perbedaan yang coba disatukan dan disejajarkan. Hal ini, mempunyai kemanunggalan arti dengan Bhinneka Tunggal Ika versi negara kita Indonesia. 

Sebagai simpul/pengikat keberagaman dan keberagamaan, Ne Mutlu Turkum Diyene (NMTD) mempunyai arti mendalam yang tidak hanya pada tataran konsep dan slogan saja. Akan tetapi kalimat ini menyemaikan semacam semangat penggerak bagi bangsa Turki, agar bangga dengan identitasnya sebagai seorang Turki. Bangsa Turki bukan lagi pesakitan di tanah Eropa dan Amerika. Sebab mereka telah bangkit menjadi bangsa baru setelah Revolusi Kemalis yang dioprasikan sejak awal abad ke-20.

Di negara Eurasia (negara superbenua, atau negara dengan dua benua) ini, kita bisa lihat bagaimana kata NMTD tidak hanya terpatri dalam sanubari, akan tetapi terekspos dalam laku kehidupan praksis. Kalimat NMTD kita bisa temui di cincin, kalung, dan kaos. Bahkan jangan terkejut kalau kalimat tersebut kerap muncul di profil picture atau dinding media sosial orang-orang Turki. Bendera Turki juga terpasang di halaman rumah orang-orang Turki, hukumnya fardu ain. Nah, hal ini pernah dirasakan Yanuar Agung Anggoro (salah satu tim redaksi Turkish Spirits), ketika ia dengan temannya tengah jagongan di salah satu kafe di Turki. Di tengah keasikan mereka mengobrol, tiba-tiba semua orang di kafe itu senyap dan berdiri sembari menyanyikan lagu kebangsaan Turki “Istiklal Marsi”. Mereka tengah menyaksikan Timnas Sepak Bola Turki di televisi yang juga meyanyikan lagu kebangsaan Istiklal Marsi. Di tengah keramain kota, cobalah kita iseng-iseng menyetel lagu kebangsaan Turki, bisa dipastikan semua orang akan berhenti beraktifitas dan khidmat menyanyikan lagu tersebut.

Berbeda dengan cerita Didid Haryadi, ia menemukan nasionalisme Turki di dalam masjid. Ketika ia tengah shalat Jum’at di salah satu bolge (wilayah) di Kota Istambul. Waktu itu ia melihat mimber (mimbar) masjid berlatar belakang sebuah bendera Turki berukuran kecil. Anehnya ketika ia shalat di tempat lain, bendera mungil itu kembali ditemukan, adalah peristiwa yang memang disengaja oleh pemerintah Turki (49). Bagi bangsa Turki, Allah, Tanah Air, dan Bendera adalah tiga paket yang tak boleh dipecah-belah. Kesadaran nasionalisme seperti itu terus menancap di dada mereka secara turun-temurun. Masjid dalam konteks nasionalisme menjadi semacam “ruang publik” khas di Turki.

Beberapa contoh nasionalisme Turki modern di atas dibangun sejak dan diimpikan untuk bertahan lama. Di bawah tokoh sentral nasionalisme Turki—Mustafa Kemal Pasa Ataturk—ia mendandani Turki modern dengan prinsip-prinsip “Kemalis” yakni republikanisme, nasionalisme, republisme, etatisme, reformasi dan westernisasi. Revolusi dilakukan dan membentuk negara Turki sekuler ala Prancis. Ia menghendaki agar urusan agama adalah yang privasi dan tidak boleh dibawa-bawa ke ranah pemerintahan dan ruang publik. Serta Anayasa (Undang-Undang Dasar) Turki tidak didasarkan atas cultural communities (etnik/ras tertentu), dan niat luhur untuk menghapuskan negara-bangsa yang berbasis political communities.

Makin ke sini, bangunan kokoh nasionalisme Turki kembali digoyang ketika bermunculan kekerasan-kekerasan yang mengancam proses kemajuan dan penguatan bangsa negara. Seperti prinsip bangsa-negara yang katanya tidak dibangun atas cultural communities, ternyata di lapangan identitas Turki modern lebih bercirikan pada satu kelompok tertentu, yakni kelompok atau etnis Turk. Kelompok Kurdi, Armenia, Arab, Laz, dan etnik non-Turki lainnnya dipaksa untuk menerima identitas Turk. Dengan tidak hanya pendekatan persuasif, pendekatan represif pun menjadi lakon terbuka dan didadar di hadapan rakyat. Sehingga terjadilah isyan (pemberontokan) yang awalnya bernuansa agamis—seperti dipimpin oleh Syekh Said Nursi—dan berujung pada pemberontakan yang sifatnya perjuangan etnik pada tahun 1930.

Ketika gelombang penguatan politik kanan yang penuh retorika rasisme dan mengagungkan kelompok Turk tersebut, saat yang sama maka lahirlah gerakan politik kiri radikal.  Dan perjuangan minoritas yang kebanyakan berada di sayap kiri akhirnya memilih melawan konsepsi Turk (Turkey) resmi, lalu mencoba untuk mencerminkannya pada sebuah wacana baru yang disebut Turkiyeli. Turkiyeli maknanya bukan sekadar orang Turki (dalam artian ras), namun sebuah konsep yang mirip seperti Americans atau bangsa Indonesia (hlm: 34).

Memang secara literer nama Turkey, dalam konteks politik identitas berpotensi menyemaikan problem serius ke depan. Contohnya hari ini, ketika etnis Kurdi memperjuangkan hak kemerdekaan dan ingin mendirikan negara bangsa sendiri. Kita beruntung memakai nama “Indonesia” yang bukan merupakan nama dari salah satu etnik di dalam wilayah negara. Dengan pilihan nama “Indonesia”, bukan Jawa atau Melayu sebagai mayoritas etnik di negara Indonesia.

Seperti dalam tulisan Bernando J. Sujibto (hal: 133-134), ada tiga kelompok yang menggoyahkan nasionalisme Turki saat ini. Pertama, gerakan separatis suku Kurdi yang diwakili PKK. Gerakan yang lahir pada tahun 1978 ini, selain mengembangkan sayapnya dalam internal Turki, secara politik ada HDP yang secara implisit telah menjadi corongnya di parlemen. Dalam sayap eksternal yang mendukung PKK juga banyak, selain suku Kurdi di Irak dan Suriah, negara seperti Rusia, Inggris, dan Perancis pun ada dibalik mereka.

Kedua, adalah kelompok kiri-komunis yang diwakili DHKP/C (Front-Partai Pembebasan Rakyat Revolusioner). Kelompok ini sudah terbukti terbiasa memainkan bom dan senapan api dengan menyerang pasukan keamanan Turki. Kelompok ini menyasar apparatus state, khusunya pasukan keamanan (polisi) sebagai target mereka. Mereka sudah banyak meledakkan bom dan menembak polisi dalam 10 tahun terakhir. Kelompok ketiga adalah ISIS, kelompok ini sangat mengacam stabilitas dan rasa nasionalime Truki. Karena sebagai kelompok misterius dan tidak bisa dibaca, ISIS bisa menyerang siapa pun dari elit pemerintahan bahkan rakyat sipil.

Harus diakui bahwa nasionalisme yang diekspresikan dengan luar biasa saat ini di Turki, tidak lain adalah karena keberhasilan indoktrinasi dengan bumbu represi (penekanan) militer sedari awal terbentuk negara Republik. Indoktrinasi yang berlebihan akan menciptakan ketegangan dan kekerasan di kemudian hari. Menghargai keberagaman adalah goal dari demokrasi, dan demokrasi yang ideal adalah mampu menyimpul perbedaan dan keberagaman. 

Judul Buku    : Turki Yang Tak Kalian Kenal
Penulis           : Tim Turkish Spirts dan Kurator Bernando J. Sujibto
Cetakan          : I, November 2017
Penerbit          : IrCisoD
ISBN              : 978-602-7696-37-2
Tebal Halaman: 312
Peresensi        : Khairul Mufid*
Share:

Senin, 09 Oktober 2017

Hanya di Jalanan Orang Jujur ditemukan


















Sebagaimana Jumat adalah masa tenang bagi enam hari waktu kerja
Maka Ramadan adalah kesunyian bagi sebelas bulan keberisikan.
Motor dan mobilmu telah menyemburkan oksidan dan polusi udara
Mestinya, engkau tidak menambah keberisikan jalan raya dengan polusi  suara
(M. Faizi, Toa-Toa Keladi, Hal: 125).

Gubuhan puisi M. Faizi di atas mendiskripsikan tentang betapa langkanya menemukan kesunyian di jalanan. Suka cita ditampakkan lewat keberisikan, karena ketentramana manusia ada pada kesunyiaannya. Selain suara mesin, suara klakson, teriakan manusia, sampai suara knalpot sejatinya menampilkan wajah jalanan yang bisa menyenangkan karena membawa pengetahuan baru tentang arti kehidupan sesungguhnya. Buku mungil karya M. Faizi ini, mengobrak-abrik imajinasi pembaca akan kehidupan jalanan yang tidak biasa dan jarang diekspos penulis.

Di jalanan, sejatinya berkeliaran anak Adam dari segala takhta dan kasta: para ulama, ahli fikih, astronom, politikus, guru, bajingan, copet, rampok, musisi dan lain-lain. Di jalanan kita juga dipertontonkan dengan hal-hal nyeleneh yang kadung dianggap biasa; seperti keberadaan polisi tidur yang tugasnya menyetop pengendara kalap yang sulit mengendorkan gas (kebut-kebutan), atau fenomena tarif kembalian tol dan SPBU kadang tidak diberikan atau mungkin kita tidak mengambilnya. Hati-hati, kalau dikonversikan itulah usaha kecil-kecilan (korupsi) yang dapat untung besar-besaran. Atau cerita tentang tabahnya truk gandeng yang jalannya ngesot serta dapat cibiran menyakitkan dari pengendara lainnya. Selain menanggung muatan berat ia mendapat cobaan dengan lengking klakson kendaraan lain yang buru-buru di belakangnya.

Di jalanan, pergerakan manusia juga lebih grusa-grusu ketimbang di tempat lain, maka digunakanlah bahasa khusus untuk berkomunikasi. Bahasanya pun harus singkat dan cepat. Di antara tujuan dipasangnya rambu-rambu lalu lintas adalah untuk keperluan ini. Begitu pula “bahasa bunyi” dan “bahasa cahaya” merupakan simbol-simbol yang digunakan oleh para pengguna jalan raya. Bahasa bunyi identik dengan klakson untuk memohon perhatian, klakson adalah morse jalanan laiknya anggota pramuka. Tapi ketahuilah, bunyi klakson itu bukan untuk bersenang-senang—meski beberapa bulan terakhir ini ada fenomena om.. telolet.. om..—maka janganlah buang klakson ke sembarang telinga.

Bahasa cahaya adalah bahasa komunikasi di jalanan, sering sesama pengguna jalan raya bisa berkomunikasi: memainkan lampu utama atau lampu depan (seperti nge-dim) bisa berarti sang sopir tengah menyapa orang/kenalan. Bisa juga untuk menggoda calon penumpang agar ikut, dan bisa diartikan juga minta dikasi jalan. Atau ketika lampu utama itu menyala terus-menerus di siang hari, itu tandanya: minta jalan dan sangat minta perhatian, lawan arah hendaknya mengalah (seperti ambulans, patwal, mobil derek) mau lewat dan harus dikasih jalan, dan terakhir mungkin lampunnya sedang korsleting (hal: 75).

Di jalanan, kita juga menemukan semangat gotong-royong dan tolong menolong hidup bahagia setelah kehidupan yang serba individualistik. Berbuat baik di jalanan bisa jadi akan terbalas di di rumah, berbuat baik di kantor boleh jadi terbalas di jalan, berbuat baik kepada siapa pun dan di mana pun akan terbalas di mana-mana. Kita lihat betapa serombongan Vespa yang begitu solid bahu-membahu, begitu pula ketika melihat konvoi truk: mogok satu, mogok semua. Kekompakan dan semangat berempati yang sulit ditemukan di era saat ini.

Di jalanan orang galak ditemukan, di jalanan orang sabar/kalem ditemukan, di jalanan orang lugu ditemukan, dan di jalanan orang jujur lebih banyak ditemukan. Di zaman yang semakin kebak akan kejahatan ini, di saat stok orang jujur mulai punah di muka bumi, ternyata jalanan adalah rumah nyaman mereka saat ini. Bisa saja kan, seorang sarjana memalsukan skripsi, peneliti memalsu data, wartawan memalsu berita, ustaz memalsu dirinya sendiri. Akan tetapi yang tersisa, kepolosan hanya ada di jalan raya. Tak akan ada kepalsuan karena di jalan raya orang pasti mengeluarkan watak aslinya. Begitu sergah M. Faizi.

Terkadang, kita melihat ada orang yang tampak saleh karena busananya, padahal pikirannya jorok dan mesum. Kita melihat orang terkadang sangat sopan saat bicara tapi sangat kejam di saat berbeda. Semua itu bisa dipalsukan. Tapi di jalan raya, terutama ketika mereka telah berada di belakang kemudi, sifat asli manusia akan muncul apa adanya.

Di media sosial, seseorang itu bisa tampak selalu lebih daripada aslinya: tampak lebih pintar dengan bantuan ensiklopedia semacam Wikipedia, tampak lebih rupawan dengan bantuan aplikasi digital, tampak lebih bijak dengan kata-kata mutiara pinjaman. Di forum-forum diskusi, seorang narasumber dapat membuat dirinya lebih elegan dengan segepok buku dan makalah. Di mimbar, seseorang bisa jadi seperti ulama hanya dengan kutip sana-sani dari hadis-hadis terjemahan yang ditelusuri dengan mesin pencari (hal: 157).

Di jalan raya, kita adalah diri sendiri. Di sana, kita tak bisa menjadi orang lain. Di jalan rayalah watak asli seseorang itu tampak nyata dan apa adanya. Ketika ada orang bilang bahwa orang jujur susah ditemukan, katakan padanya, “Lihatlah lalu lalang orang di jalan raya. Orang-orang jujur numpuk di sana.”

Judul Buku    : Celoteh Jalanan
Penulis          : M. Faizi
Cetakan         : I, Maret 2017
Penerbit         : BASABASI
ISBN              : 978-602-61160-4-8
Tebal Halaman: 180
Peresensi       : Khairul Mufid*
Share:

Kamis, 25 Mei 2017

Bijak terhadap Isu Aleppo

Sumber Gambar: https://dinasulaeman.files.wordpress.com/2017/03/cover-salju-aleppo.jpg?w=500
 
Salju pertama turun di Aleppo pada tanggal 21 Desember 2016, sepekan kemudian tentara Suriah (Syrian Arab Army, SAA) mengambil alih Aleppo Timur yang telah diduduki oleh kelompok-kelompok milisi bersenjata. Aleppo yang dahulu diselimuti keceriaan, sinar matahari begitu cerah, kini tak ubahnya seperti kota mati dengan hancurnya gedung-gedung bertingkat, sekolah, lubang bekas peluru di sana-sini dan bau amis darah bangkai manusia.

Dalam krisis Aleppo, atau Suriah secara mondial, kita harus bijak tentang pemberitaan-pemberitaan yang di back-up media massa. Hancurnya Aleppo tidak dilakukan oleh satu pihak, tapi banyak pihak terlibat. Semua pihak sama-sama menancapkan kepentingannya untuk melanggengkan cita-cita yang sengaja digelapkan. Antara milisi bersenjata yang datang dari rakyat Suriah, militer Assad, kelompok radikalis atas nama agama, sampai faktor eksternal (barat) serta sekutunya juga menancapkan kekuatannya terhadap kota yang letaknya di akhir dari Jalur Sutra tersebut.

Dalam buku “Salju di Aleppo” karya Dina Y. Sulaeman ini, banyak menyoroti tentang kabar Hoax tentang Aleppo. Lebih jauh lagi, Dina menyatakan; Sponsor Perang Suriah adalah negara Super Power seperti AS, Inggris, Perancis, Arab Saudi, Qatar, Turki, dan Yordania. Mereka mendanai dan menyuplai senjata kepada para milisi bersenjata dalam rangka menggulingkan rezim Assad. Israel pun membantu dengan cara melakukan serangan sporadis ke wilayah Suriah untuk merawat milisi bersenjata yang terluka (hlm: 42).

Penggunaan media sosial juga menjadi bahan legitimasi Barat untuk menggalang dukungan. Lihat saja pemberitaan tentang pertempuran di Aleppo Timur yang menjadi luar biasa, aneh, berbahaya, dan bahkan mematikan, ketika tidak ada satu pun jurnalis Barat yang melaporkannya dari tangan pertama dari lapangan. Mereka meyerahkan jurnalisme kepada media sosial, dan kepada milisi bersenjata yang mengontrol wilayah itu.

Maka narasi tentang Perang Suriah yang satu nada (Assad diktator, pelaku pembunuh massal, harus digulingkan) dan berbagai “bukti” yang disodorkannya, pada umumnya bersumber dari media-media papan atas alias media mainstream (arus utama). Mulai dari CNN, BBC, Al Jazeera, Fox News, Reuters, AFP, The Independent, The Telegraph, dan sebut saja nama media terkemuka dunia dan nasional (Indonesia), mereka satu nada, satu narasi (hlm: 55).

Kita masih ingat, betapa seluruh media mainstream memberitakan bahwa Irak menyimpan senjata pembunuh massal. Atas alasan itu, AS dan sekutunya menggempur Irak pada 2003, menggulingkan Saddam Husein, mendudukinya sampai sekarang. Padahal pernyataan para pemimpin AS sendiri, muncul pengakuan bahwa sebenarnya tidak ada senjata pembunuh massal di Irak. Yang ada hanya kepentingan finansial.

Kabar hoax tentang korban di Aleppo juga pernah disebarkan oleh simpatisan mujahidin, yang dengan mudah dibuat. Mereka menggunakan foto bocah Palestina yang ditembak Israel, korban kecelakaan mobil di Turki, foto lama tragedi Shabra-Shatila di Lebanon, atau gempa bumi di Azerbaijan, lalu diberi keterangan foto: Korban Kekejaman Assad (hlm:83). Maka Dina menyarankan untuk memeriksa kebenaran gambar hoax tersebut; Masukkan foto itu ke Google Image, dan dalam hitungan detik, akan keluar foto-foto serupa. Lalu kita bisa melacaknya dengan melihat waktu posting.

Dina melanjutkan, sebenarnya krisis di Aleppo pertama kali dimulai ketika peristiwa Arap Spring (Musim Semi Arab) pada awal 2012. Di mana project demokratisasi Timur Tengah oleh Barat, dimulai dari Tunisia, Libya, Mesir, dan saat ini adalah Suriah dan Irak. Barat juga menggunakan sentimen sektarian dalam agama Islam untuk krisis Aleppo, mengaitkan Assad yang Syiah dengan Oposisi yang kebanyakan Sunni. Belum lagi keberadaan ISIS dan Al-Qaeda yang sedari menambah ketebatalan salju di Suriah dan Irak.


Judul Buku        : Salju di Aleppo
Penulis               : Dina Y. Sulaeman
Cetakan             : Maret 2017
Penerbit             : PT Mitra Media Mustika & ICMES Publisher
Tebal Halaman  : 230
Peresensi           : Khairul Mufid Jr*




Share:

Senin, 24 April 2017

Ziarah Literer si Anak Hilang

Sumber Gambar: Dok. Pribadi

Judul : Rumbalara Perjalanan
Penulis : Bernando J. Sujibto
Cetakan          : Pertama, Mei 2017
Penerbit          : DIVA press
ISBN : 978-602-61246-1-6
Tebal Halm. : 184: 14 x 20 cm 
Peresensi        : Khairul Mufid Jr*

Yuval Noah Harari, 41 tahun, sejarawan kebangsaan Israel pernah menulis dalam bukunya, Sapiens: A Brief History of Humankind (2014) yang isinya begini: Manusia sebagai Homo Sapiens (hewan bijak, hewan berpikir) menunjukkan keberhasilannya sebagai spesies yang tidak punah karena ia menyusun fiksi, manusia membayangkan hal-hal yang tidak ada, dan menciptakan apa yang belum pernah ada. Dan pada fragmentasi lain manusia juga kritis untuk melepaskan diri dari satu fiksi, pindah ke fiksi lain dan mampu membedakan fiksi dari fakta. Kemampuan itu memungkinkan manusia berhimpun dan bekerjasama secara luas dalam cara yang tidak mungkin dilakukan oleh hewan-hewan.

Dengan kata lain, kemampuan berimajinasi memungkinkan terjadinya perubahan cepat di dalam masyarakat manusia. Hewan-hewan tidak bisa melakukan revolusi karena mereka tidak bisa melakukan revolusi karena tidak berimajinasi. Dalam koloni lebah misalnya, dikenal adanya lebah ratu dan lebah pekerja dan di sana ada juga pembagian kerja, tetapi kita tidak akan pernah membawa berita bahwa pada suatu pagi seekor lebah di dalam koloni itu membunuh ratu lebah dan mengobarkan revolusi, dan membangun pemerintahan komunis demi menegakkan otoritas lebah-lebah pekerja. Mereka tidak mampu mengarang cerita tentang perjuangan kelas (AS. Laksana “Para Pendongeng” Tirto.id, 17 April 2017).

Manusia sebagai produsen kisah, tidak mungkin melewatkan segala benturan-benturan ruang dan waktu yang mengantarkannya pada suatu pendakian hidup. Seorang penyair sebagai Homo Sapiens, pasti melahirkan anak-anak sajaknya lewat benturan kehidupan yang empiris. Sangat tidak mungkin seorang penyair akan melewatkan momentum-momentum perlintasannya dengan segala hiruk-pikuk kehidupannya untuk tidak lekas menuliskannya. Mustahil. Walaupun ada sebagian penyair hanya mengembarakan imajinasinya saja untuk menulis sajak, tapi hasilnya dangkal dan hambar. Maka tidak dapat dimungkiri kalau sajak adalah jelma dari penyairnya itu sendiri. 

Pada 1927, pujangga besar asal India yang bernama Rabindranath Tagore berziah ke Candi Borobudur. Beliau menggubah sajak kenangan berjudul Borobudur. Kunjungan itu mengingatkan Tagore bahwa Jawa menjadi tanah tertua dalam alur sejarah religiusitas. Meski, perjumpaan singkat dengan Candi Borobudur dan tanah Jawa, beliau mampu melukiskan dan mengekspresikan ketakjubannya dalam sebuah sajak, yang tentu hasil sadur kehidupan nyata beliau.

Sebagai penyair cerdas dan cerdik membaca geliat kehidupan; Bernando J. Sujipto juga mencoba menggambarkan dan memaradekan kehidupannya dalam sehimpun sajak “Rumbalara Perjalanan”. Beje (nama akrabnya) tidak bisa melupakan dan atau meninggalkan sajak-sajaknya berserak begitu saja. Dari tahun 2003 ketika mengenyam pendidikan Pesantren di Annuqayah (Madura), hingga tahun 2016 ketika menyelesaikan Masternya di Turki, telah banyak sajak-sajak dihasilkannya lewat perjumpaan dengan kehidupan empiris, tidak mengada. Setelah melewati kepungan zaman yang kadang memenjarakannya, dia sanggup memenjarakan egoisme pribadi dan melanggengkannya pada kematangan diri untuk menulis sajak, yang terangkum dalam antologi tunggalnya ini.

Dalam kumpulan sajaknya ini, penyair membagi menjadi dua fase. Fase pertama Biografi yang Tak Utuh dan fase kedua Rumbalara Selat. Dari kedua fase tersebut, mengisahkan dari awal penyair memulai pengembaraan puitiknya, hingga prosesi pengembaraan penyair ke negeri-negeri jauh yang ditulis rapi sebagai catatan perjalanan. Fase pertama, banyak melukiskan tentang kehidupan penyair dari kampung halamannya dan kritik historis ketika penyair mampu menuliskan kampung halamannya yang padahal dia tidak lagi disana. Seperti sajak Ke Madura Pulang Sebentar (hlm. 48), dan Pulau (hlm. 56).

Masih di fase pertama. Dalam pengembaraan puitiknya, penyair juga merekam kehidupan uniknya ketika menempa diri di Yogyakarta, secara khusus di Pesantren menulis PPM. Hasyim Asy’ari Yogyakarta. Bacalah sajak Nota Perburuan (hlm. 40). Sajak kepada guru menulisnya, Semuanya Lahir Kepada Namanya Sendiri, Gus Zainal Arifin Thoha (hlm. 41). Atau sajak nostalgiknya tentang sajak Ontel yang sengaja saya kutib beberapa bagian di sini: Keringat ini seperti logam/jatuh berdentingan di tanah/gugur seperti daun-daun/jalan-jalan terjal meleleh/dari pori-poriku lahir kembali.

Syahdan, pada fase kedua, penyair lebih peka dan menghadirkan kata, bahasa, dan latar tempat yang jarang didengar telinga kita. Pada fase ini penyair banyak merekam perjumpaannya dengan gerak sosial berbeda ketika sempat beberapa kali mengunjungi negeri-negeri nun jauh, seperi Amerika, Australia, Kolombia dan lainnya. Seperti dalam sajak Charlotte dan Jenderal Sunter (hlm.79), Horseshoe I (hlm. 80), dan sajak Pucuk Daun Ranting Basah (hlm. 85). Dalam sajak terakhir ini, penyair memaradekan bagaimana jarak yang memenggal perjumpaan fisik dengan ibunya. “Ini baru saja hujan, ibu/aroma tanah selalu sama/rindu yang membuatnya beda/kepada nama masing-masing. Hingga dipungkasi dengan beberapa narasi kerinduan: “Adakah daun bambu bekas mainan perahu/dibelakang langgar itu juga terhanyut?/aku ingin menjelangnya di sini/pada sungai-sungai yang mengalir/dari jantungmu ke jantungku.” Sajak ini ditulis ketika penyair mengembara ke Kolombia, Juni 2010.

Pengembaraan penyair tidak berhenti disitu, ia mengembara ke Negeri Bunga Tulib, Turki. Lihatlah sajak Seperti Deras Sungai Tigris (hlm.121), sajak Ankara-Angkara (hlm.123), Bataille d’Aboukir (hlm.127) dan Suatu Waktu di Anatolia (hlm.148). Dalam perjumpaan penyair dengan beberapa gerak sosial baru di Turki, dihadirkanlah sajak-sajak nostalgik yang mengajak pembaca menziarahi beberapa monumen jejak kejayaan Kerajaan Ottoman, gerak politik pemerintahan Turki, atau tentang kesohoran ahli rohani Jalaluddin Rumi. Penyair mampu memberi kesegaran dalam dunia persajakan. Karena penyair tidak sedang berangan-angan, dan bermetafor semata, penyair merekam dan melakukan observasi mendalam terhadap segala objek bahasan dalam sajaknya.

Dalam Puisi Ziarah (hlm.144), penyair menyampaikan pesan spiritual yang ia persembahkan untuk Jalaluddin Rumi. Dengan bahasa naratif, penyair mampu menghadirkan debar bagi pembaca. Karena rasa nyaman berada dan bercumbu dengan kenangan dan keagungan sang Sufi itu, penyair selalu bersikeras menziarahi petilasan sang Sufi. Dan tentu membawa seabrek cinta dan kerinduan yang membuncah dari negeri asal penyair. “Aku takkan mengatakan selamat tinggal/untuk cinta yang kau arsir dari kitab suci”, katanya.

Puisi Ziarah di atas adalah puisi sederhana, menggunakan metafor dan diksi yang biasa-biasa saja, dan mungkin banyak ditemui dalam kehidupan kita. Tapi jangan salah, untuk menyajikan yang sederhana itu, dengan menyelipkan makna mendalam itu sangat sulit bagi seorang penyair. Maka jangan main-main dengan seorang penyair. 

Secara keseluruhan, penyair memang menghadirkan bahasa sederhana dan dengan penjabaran renyah dibaca. Penyair juga tidak mendikte pembaca, menggurui, amarah dan ihwal buruk lainnya. Tapi menawarkan dan memberi kebaharuan untuk memaksa pembaca berlama-lama dan menyuntuki setiap rakitan kata-katanya.

Acep Zamzam Nur dalam esai pengantar antologi ini berujar: Menulis puisi sederhana tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Kesederhanaan bukan semacam bentuk kepolosan atau keluguan, apalagi sejenis kemalasan berusaha, improvisasi atau asal jadi. Lewat puisi ini malah saya seperti kembali disadarkan bahwa inti dari sebuah kesedernaan adalah ketepatan dalam menimbang serta kepekaan menentukan takaran. Dengan kata lain peralatan bahasa digunakan secara efektif dan fungsional sesuai kebutuhan.  

Si anak hilang kini kembali pulang. Pengembaraannya belum final. Sebagai cerdik yang berfikir dan berakal tentu ia tak lekas puas dengan pelawatannya dengan sajak, suasana, dan tempat-tempat. Kita tunggu ziarah literer berikutnya darinya.   


23/04/17







Share:

Sabtu, 15 April 2017

Che, dalam Kesaksian Kamerad Fidel Castro

Sumber Gambar: Dok. Pribadi
  

Judul Buku                 : Che, dalam Kenangan Fidel Castro Penulis/penerjemah    : Ruslani
Cetakan                      : I: Maret 2017
Penerbit                      : MATAANGIN
Tebal Halaman           : 364
Peresensi                    : Khairul Mufid Jr*


Hasta la Victoria siempre! (Maju terus menuju kemenangan!)
Patria o muerte!  (Tanah air atau mati!)

Kalimat di atas adalah kalimat magis dari sang revoluisioner Kuba, Ernesto Che Guevara. Che (nama akrabnya) berdarah Rosario, Argentina yang lahir pada 14 Juni 1928 ini adalah sosok pribadi tangguh. Selama 12 tahun dia mengabdikan sebagian hidupnya untuk sebuah revolusi di Kuba. Bersama Kamerad perang Fidel Castro, mereka berhasil menggulingkan pemerintah Fulgensio Batista (1 Januari 1959). Akhirnya Batista kabur, dan terciptalah Kuba yang baru dengan sistem pemerintahan yang lebih memperjuangkan kelompok minoritas.

Bulan Juli atau Agustus 1955, adalah pertama kalinya Fidel bertemu dengan Che pada malam hari yang indah. Mereka dipertemukan dalam ekspedisi Granma masa depan, meskipun pada saat itu ekspedisi sama sekali tidak memiliki kapal, senjata, maupun pasukan. Dalam pasukan ekspedisi itu ada nama Raul Castro (Presiden Kuba, sekaligus adik kandung Fidel) yang juga ikut andil.

Dalam kenangan Fidel, Che adalah seorang yang sangat dicintai dan disukai karena kesederhanaannya, karakternya, sikap apa adanya, sikap keramahan dan persahabatannya, kepribadiannya, kesejatiannya, dan kebijakannya yang unik adalah kompleksitas ketika memasuki karakter Che. Laiknya sebuah bangunan yang memiliki seribu pintu, Che adalah sosok yang multidimensional untuk dimasuki (hal. 133).

Sebelum menjadi pasukan militer, Che adalah seorang dokter dalam menjaga dan merawat para tentara yang sakit. Dalam suatu peristiwa, dia bukan seorang dokter seperti kejamakan, dia adalah pejuang luar biasa yang memiliki nilai humanistik tinggi. Lihat saja ketika dia merawat kamerad terluka, dan pada saat yang sama juga merawat pasukan musuh yang terluka.

Dalam pintu lain, Che adalah relawan yang banyak membikin decak kagum. Dia seorang pribadi dengan gagasan-gagasan yang mendalam, pribadi yang pikirannya mengendalikan mimpi perjuangan di belahan benua yang lain dan yang meiliki watak sangat altruistik, tidak egois, dan selalu bersedia melakukan hal-hal resiko mempertaruhkan nyawanya.

Masih dalam pandangan Fidel. Che adalah tentara yang tak terbandingkan, dialah pemimpin yang tiada tanding. Dari sudut pandang militer, Che adalah pribadi yang cakap luar biasa, berani luar biasa, dan memiliki watak pejuang yang luar biasa. Sebagai seorang gerilyawan sejati, ia diibaratkan memiliki panah Achilles, maka panah itu adalah kualitasnya yang sangat kombatif, semangatnya yang mutlak untuk menerjang bahaya (hal. 38).    

Namun jika kita ingat Che, ketika berpikir tentang Che, pada dasarnya kita tidak berpikir tentang keunggulan-keunggulan militernya. Tidak!. Perang adalah cara, bukan tujuan. Pertempuran adalah alat bagi kaum revolusioner. Hal yang penting adalah revolusi. Yang penting adalah semangat revolusioner gagasan-gagasan revolusioner, tujuan-tujuan revolusioner, sentimen-sentimen revolusioner, dan kebajika-kebajikan revolusioner.

Sebagai gerilyawan perang, darahnya menetes di tanah Kuba saat ia terluka dalam beberapa pertempuran, darahnya juga tumpah di Bolivia, Vietnam, dan Guatemala adalah representasi untuk generasi selanjutnya. Biar jasat lesat dari badan, tapi warisan revolusionernya akan tetap abadi dan hidup sejahtera.

15/0417

*Pertama kali dipublikasikan di Koran Jakarta, Rabu, 26 April 2017



Share:

Jumat, 07 April 2017

Dilema Keamanan Asia Tenggara

Sumber Gambar: Koleksi Pribadi
Kawasan Asia Tenggara termasuk salah satu kawasan yang dinamis dan paling cepat pertumbuhannya di dunia. Mulai dari pertubuhan ekonominya, dan ditopang oleh keamanan regional serta hubungan internasional yang relatif harmonis.

Dari ke sebelas negara anggota ASEAN, pada dasarnya memiliki keanekaragaman dalam hal budaya, sosial, ekonomi, agama, serta politik. Dan secara geografis Asia Tenggara terbagi menjadi dua: yakni, Asia Tenggara Kontinental dan Asia Tenggara Maritim. Yang termasuk kategori Asia Tenggara Kontinental (daratan) adalah Thailand, Laos, Vietnam, Kamboja, dan Myanmar. Sedangkan yang termasuk dalam ketegori maritim adalah Indonesia, Malaysia, Singapura, Philipina, Brunei Darussalam dan Timor Leste. Dan uniknya hampir semua negara adalah bekas kolonialisme barat kecuali negeri Gajah Putih Thailand (hal. 27). 

Dari dialektika keberagaman tersebut, Asia Tenggara kalau berkaca pada sejarah memiliki Rapor merah tentang dilema keamanan nasional negaranya bahkan keamanan antarnegara sesama anggota negara kawasan. Misalkan dari gerakan separatisme Bangsa Moro di Philipina, gerakan separatisme Pattani di Thailand, gerakan separatisme Kachin dan Karen di Myanmar dan gerakan separatisme Papua dan Aceh di Indonesia. Pembahasan tersebut dikupas secara berturut-turut dalam buku ini pada bab II, III dan IV.

Dilema keamanan yang berpotensi konflik juga banyak ditemui karena sengketa teritorial antarnegara di kawasan Asia Tenggara. Pasca kemerdekaan, masalah sengketa wilayah dan klaim kedaulatan yang tupang tindih (overlapping). Misalkan masalah Sipadan dan Ligitan dan blok Ambalat antara Indonesia dengan Malaysia, sengketa perbatasan antara Thailand-Laos, serta Thailand dan Myanmar. Sengketa Kuil Preh Vihear antara Thailand dengan Kamboja, sengketa Pula Pedra Branca antara Singapura dan Malaysia. Dan negara yang bersengketa garis teritorial selalu berpegangan pada konsep (legally bounded territory), merupakan sebuah konsep warisan kolonial Barat (hal. 85).

Bahkan pada bab VI buku ini juga menjabarkan tentang kemelut Laut Tiongkok Selatan yang sampai sekarang masih belum menunjukkan perdamaian antarnegara yang bersengketa.  Pada dasarnya konflik LTS sudah dimulai jauh sebelum negara-negara Asia Tenggara merdeka. Namun konflik resmi antarnegara meledak di sekitar LTS baru dimulai pada abad ke-19. Inti permasalahan LTS pada dasarnya adalah terkait tumpang tindihnya garis wilayah perbatasan akibat saling klaim negara-negara terlibat terhadap pulau-pulau di LTS yakni kepulauan Spratly dan kepulauan Paracel. Berdasarkan U.S. Energy Information Administration (EIA) kedua kepulauan tersebut diduga kuat mengandung cadangan mineral misalnya 2,5 milyar barel danada sekitar 25,5 Tcf gas alam. Sehingga sangat logis kalau ke-6 negara (Brunei Darussalam, China, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam) saling klaim untuk mendapatkan kepulauan itu.

Sehingga dengan gerakan separatisme dan klaim kepulauan di LTS tersebut menjadikan Asia Tenggara sebagai kawasan yang rawan konflik dan mencitapkan implikasi dilema keamanan. Padahal berbagai isu konflik di atas masih dalam tataran kelompok perspektif realisme, yang menganggap “keamanan” sebagai ketiadaan perang atau ancaman peperangan. Yang menjadi rujukan hanyalah negara (State Security) dan ancaman berifat militer dan sumber ancaman dari luat.

Dalam perkembangan isu hubungan internasional, pada konteks abad  ke-20 dan 21 telah muncul upaya pergeseran dan perluasan makna. Kemanan dari yang semula hanya berfokus kepada State Security atau keamanan negara/rezim bergeser kepada fokus baru yakni manusia (Human Security). Human Security diartikan sebagai suatu kondisi dimana individu berada dalam keadaan aman baik dari sisi sosial dan ekonomi dalam konteks persamaan dan keadilan (hal. 130).

Laporan United Nations Development Programe (UNDP) tahun 1994 menunjukkan bahwa ancaman utama bagi kehidupan manusia saat ini lebih bersifat ekonomi dan sosial, seperti kemiskinan,, penyakit, pengangguran, pendidikan rendah, pengungsi, lingkungan hidup yang buruk, ketimpangan gender dan sebagainya. Bisa dilihat di Asia Tenggara, tentang isu pengungsi etnis rohingnya banyak mengungsi ke negara-negara tenggara karena penindasan oleh rejim atau junta militer Myanmar.

Maka untuk meminimalisir konflik dan menciptakan kemanan di kawasan Asia Tenggara, pemangku kebijakan ASEAN membentuk suatu badan keamanan multilateral. Seperti  Asean Security Community (ASC), ASEAN Regional Forum (ARF), dan campur tangan dari negara great power Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok di kawasan Asia Tenggara.

Sedangkan peran Asean Security Community (ASC) sebagai sebuah konsep komunitas keamanan yang menjadi diskursus di Asia Tenggara. Dalam perjalannya ASC merupakan implementasi dari kesepakatan anggota ASEAN untuk menjaga stabilitas politik dan keamanan di Asia Tenggara. Konsep ASC diantaranya didukung oleh norma “ASEAN Way” yang bisa mengkonsolidasikan negara anggota.

Selain itu ada juga ASEAN Regional Forum (ARF), merupakan forum dialog dan kerja sama keamanan regional yang didirikan tahun 1994 beranggotakan negara-negara ASEAN dan negara di kawasan Asia-Pasifik. Tujuan didirikiannya ARF adalah untuk menciptakan pola-pola hubungan yang stabil dan dapat diprediksi antara negara-negara ASEAN dan negara-negara di kawasan ini. 

Berikutnya pada bab XI buku ini membahas tentang peran Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara. Sebagai pemain utama dalam politik internasional yang cukup memengaruhi konstelasi politik kawasan Asia Tenggara. Karena secara aspek ekonomi AS sangat paham bahwa Asia Tenggara menyimpan banyak potensi sumber daya alam yang melimpah. Sedangkan dalam aspek politk AS memiliki kepentingan di balik kemengangan kelompok “kanan” atas kelompok “kiri” di kawasan Asia Tenggara terutama di Indonesia.

Pada bab berikutnya XII dan XIII buku ini membahas tentang campur tangan Jepang dan Tiongkok sebagai negara kuat secara ekonomi dan politik dari Asia Timur. Tentu kedua negara tersebut ingin menancapkan ideologi dan pengaruhnya di kawasan Asia Tenggara secara ekspansionis.

Kehadiran Buku ini sebagai pelengkap literatur dispilin ilmu hubungan internasional. Fokus penulis (Dr. Ali Muhammad & Dr. Ali Maksum), adalah sebagai penambah kekayaan khazanah keilmuan hubungan internasional yang sebelumnya telah banyak ditulis pakar dan akademisi ilmu hubungan internasional. Seperti mantan rektor Universitas Muhammadiyah: Prof. Dr. Bambang Cipto, M.A dengan bukunya Hubungan Internasional di Asia Tenggara (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010). Akhirnya, selamat membaca!


Judul Buku : Keamanan Asia Tenggara (Antara Konflik, Kerjasama dan Pengaruh Negara-negara Besar)
Penulis : Dr. Ali Muhammad & Dr. Ali Maksum
Cetakan         : I, Agustus 2016
Penerbit         : LP3M UMY
ISBN : 978-602-7577-83-1
Tebal Halaman : 322
Peresensi        : Khairul Mufid Jr


























  



Share:

Menangkal Terorisme, Menyemai Deradikalisme

Sumber Gambar: Koleksi Pribadi
Buku yang ditulis Muhammad Nur Islami ini adalah pencerah dalam khazanah radikalisme, dan terhadap pengertian dasar terorisme. Dia mempertanyakan pengertian umum terorisme yang mengeliminasi suatu kelompok tertentu; Islam misalkan. Bahkan dia berspekulasi bahwa kemunculan terorisme adalah project kenegaraan Barat pasca perang dingin. Ketika kekuatan dunia terpusat pada Amerika pasca keruntuhan Uni Soviet (1991), terciptalah kehampaan perang/konflik dan membuat mereka terpaksa menanam bibit-bibit musuh baru untuk kepentingan militer dan jual beli persenjataan secara transnasional.
 
Dengan bersandarkan pada Konvensi PBB tahun 1937, yang menjelaskan pengertian terorisme sebagai bentuk tindak kejahatan dengan maksud menciptakan bentuk teror terhadap orang-orang dan kelompok tertentu, Muhammad Nur Islami mengkategorikan kasus invasi Amerika ke Vietnam, Irak, Afganistan dan Afrika Utara adalah tindak pelaku terorisme juga. Sehingga dia meyakini bahwa sebenarnya aksi-aksi teror yang dilakukan tak ubahnya sebentuk drama kolosal dan pada titik akhir adalah bentuk perlawanan.

Walter Reich menyebut terorisme adalah permasalahan yang kompleks, penyebabnya beragam dan orang-orang yang terlibat di dalamnya lebih beragam lagi. semua usaha untuk memahami motivasi tindakan individu atau kelompok teroris harus memperhitungkan keberagamaan yang begitu banyak ini. oleh karenanya, tidak ada satu pun teori psikologi atau bidang ilmu lain yang secara mandiri dapat menjelaskan perihal terorisme (hal. 16).

Lebih jauh lagi, pengertian terorisme itu sangat berkaitan dengan kepentingan politik, sosial, ideologi, dan ekonomi. Maka pemahaman tentang terorisme pun sangat rancu dan beragam. Kalau AS dan Israel mengatakan pejuang-pejuang Palestina itu teroris, maka sebaliknya negara-negara Islam dan umat Islam seluruh dunia mengatakan bahwa Amerika dan Israel lah teroris yang sesungguhnya. Pandangan-pandangan semacam ini berdampak sangat luas terhadap penanggulangan persoalan terorisme (hal. 319).

Dari kekaburan pengertian terorisme itu, mendasari Muhammad Nur Islami untuk meluruskan pengertian terorisme dengan perspektif eklektisisme (saling mengambil dan memberi); mulai dari Hukum Islam, Hukum Nasional dan Hukum Internasional. Hukum islam dirasa penting karena sebagian besar pelaku teror beragama islam (bahkan menganggap perbuatannya sebagai jihad). Hukum nasional juga penting karena sudah menjadi kewajiban setiap negara sebagai anggota masyarakat internasional untuk menegakkan kedaulatan hukum negaranya. Sedangkan hukum internasional terasa lebih penting karena terorisme ini menjadi persoalan bersama dalam hubungan antarbangsa di dunia.

Sejak penyerangan WTC (World Trade Center) dan Pentagon, Amerika Serikat (11 September 2001), maka melambunglah adagium terorisme ke berbagai penjuru dunia. Amerika di bawah nakhoda George Walker Bush merasa dilecehkan dan membumikan gerakan melawan terorisme.  Global War on Terror, kampanye yang diusung Amerika ke seluruh dunia. Bahkan dengan keras mengatakan: Yang tidak bergabung bersama kami adalah teroris.

Pada tanggal 18 September 2001 Kongres AS memberikan wewenang kepada Presiden Bush: “untuk menggunakan seluruh kekuatan yang sesuai dan diperlukan untuk melawan bangsa-bangsa, organisasi-organisasi, atau orang-orang yang menurutnya merencanakan, melakukan, terlibat atau mendanai serang teroris yang terjadi pada 11 September 2001, atau menahan orang tertentu guna menghindari aksi-aksi terorisme internasional di masa mendatang terhadaep AS, oleh bangsa, orgnisasi atau orang tertentu.”
 
Maka ketika visi itu dikumandangkan, otomatis akan menyudutkan islam secara mondial. Lihatlah bagaimana kehidupan umat islam di Amerika diberedel ketat, dan lihatlah penolakan imigran muslim di Eropa. Hal inilah yang kemudian disitir Muhammad Nur Islami, bahwa kita harus membedakan antara memahami motif tindakan teroris atas nama agama dan pemberantasan terorisme dengan memberantas ideologinya. Sebab, sekalipun tindakan teroris itu menurut pelakunya dianggap jihad dan bukan kejahatan, bukan berarti ini dapat dibenarkan hingga teroris hanyalah oknum dan tidak bisa digeneralisir terhadap umat Islam. Sebaliknya pernyataan Jusuf Kalla, bisa jadi umat Islam dirugikan pendidikannya, pesantrennya, semangat jihadnya, dan lain sebagainya.
 
Adab Jihad dalam islam sendiri jelas-jelas melarang membunuh, melindungi darah manusia kecuali dengan alasan ynag benar, melindungi nyawa orang-orang lemah dari pihak musuh, dan cukup mendakwahi orang-orang kafir supaya memeluk Dinul Islam, disertai dengan penjelasan tentang hakikat Dinul Islam agar mereka mengetahui apa tujuan kaum muslimin mendekati mereka (hal. 301).
 
Maka konsep penyelesaian kasus terorisme dalam buku ini menggunkan persepektif eklektisisme, penyesuaian hukum yang dapat dilakukan dengan: Pertama, memperluas sumber hukum yang dipergunakan, termasuk ketentuan dari Hukum Humaniter Internasional dan Konvensi Internasional lainnya. Dan juga ketentuan dari Hukum Islam disamping ketentuan dari UU No.15 tahun 2003 dan KUHP. Kedua, pemerintah harus melakukan rekonstruksi dalam cara berhukum dari penegak hukum baik kepolisisan, jaksa, pengacara dan hakim.
 
Apalagi jika otoritas pemerintah, ulama, dan Ormas islam untuk meningkatkan pemahaman agama yang baik bagi syarat, tersangka/mantan tersangka teroris dan kelompoknya. melakukan dialog-dialog bersahabat antara aparat penegak hukum dengan unsur-unsur lembaga masyarakat. Dan terakhir peningkatan pengetahuan hukum dan HAM bagi masyarakat, tokoh organisasi kemasyarakatan Islam, dan kalangan pesantren.

04 April 2017

Judul Buku    : Terorisme, Sebuah Perlawanan
Penulis           : Dr. Muhammad Nur Islami, SH. M.Hum
Cetakan         : I: Maret 2017
Penerbit         : Pustaka Pelajar
ISBN             : 978-602-229-707-9
Tebal Halaman: 428
Peresensi       : Khairul Mufid Jr*
 


Share:

Jumat, 31 Maret 2017

Jalan Diplomasi “Terra Incognita” Bung Karno

Sumber Gambar: Koleksi Pribadi
Selain konsep “Bebas Aktif,” politik luar negeri Indonesia pada awal kemerdekaan menggunakan taktik bersahabat dengan para pemimpin dunia. Politik luar negeri Indonesia adalah “Terra Incognita” kata Rosihan Anwar, sebuah diskursus politik yang tidak kelihatan/dikenal. Dilihat dari pernyataan pidato-pidato para pemimpin bangsa saat itu juga tidak banyak menyinggung masalah politik luar negeri. Seperti pidato Founding Fathers Bung Karno, Syahrir dan Hatta.

Selain menggunakan fisik (militer), Indonesia juga menggunakan jalur diplomasi sebagai cara ampuh untuk menggalang dukungan dari dunia internasional. Karena diplomasi, menurut Syahrir adalah cara yang paling tepat mengingat kondisi dalam negeri yang masih lemah serta konstelasi politik internasional yang didominasi oleh dua negara great powers Amerika Serikat dan Uni Soviet ketika Perang Dingin (Suryadinata:1998).

Jalur diplomasi yang dipilih Indonesia, tidak memihak ke Timur (Uni Soviet) dan Barat (Amerika Serikat) akhirnya menginesiasi Gerakan Non-Blok pada tahun (1955) bersama negara ketiga lainnya. Bung Karno sebagai presiden sekaligus diplomat Indonesia, tidak tanggung-tanggung menjalin hubungan dengan negara-negara dunia ketiga untuk menentang kolonialisme, neo-kolonialisme, apartheid, rasisme, dan imperialisme.

Buku Dunia dalam Genggaman Bung Karno yang ditulis Diplomat Kemlu, Sigit Aris Prasetyo ini menarasikan kemesraan dan jalan diplomasi “diam-diam” Bung Karno dengan beberapa pemimpin-pemimpin dunia. Buku ini adalah buku kedua Sigit yang membahas suksesor Presiden Ir. Soekarno. Buku pertama terbit dengan judul “Go to Hell with Your Aid: Pasang Surut Hubungan Sukarno dengan Amerika.” Saat ini penulis tengah merampungkan tulisan berikutnya, yaitu “Indonesia-AS: Hegemoni dan Politik Bebas Aktif,” dan “Membedah Revolusi Mental ala Sukarno.” 

Dalam penjabaran yang tidak kaku—ditopang pengalaman penulis dalam ilmu hubungan internasional—buku ini banyak membahas jalan diplomasi dan kedekatan Bung Karno dengan tokoh-tokoh dunia. Dalam pernyataannya, Bung Karno menyebut 2/3 negara-negara di dunia pernah dikunjunginya. Alasannya sederhana, “karena aku pada dasarnya ingin berkawan, aku ingin Indonesia dikenal orang. Aku ingin dunia tahu, bagaimana rupa orang Indonesia, dan melihat bahwa kami bukan lagi bangsa yang tolol, seperi orang-orang Belanda berulang-ulang menyebut kami.”

Di balik sifat agresor dan revolusionernya, Bung Karno ternyata memendam sifat humanis, dengan pendekatan bersahabat dan berkawan yang luar biasa dengan orang lain. Ada momentum unik ketika Presiden Rusia, Nikita Krushchev melakukan kunjungan ke Indonesia pada tanggal 27 Februari hingga 02 Maret 1960. Ketika Krushchev di Istana Tampaksiring, Kabupaten Gianyar Bali, ada momen kedekatan yang berhasil diabadikan, yaitu saat Bung Karno dan Presiden Krushchev melakukan “sambung rokok” setelah jamuan makan malam. Dalam budaya Rusia, saat kedua sahabat telah minum “Vodka” atau “sambung rokok” menandakan telah mencapai level persahabatan “wahid” atau saling percaya. Maka tak ayal dengan medium persahaban itu, Bung Karno berhasil membujuk Krushchev untuk memberi bantuan ekonomi senilai US$ 250 juta selama tujuh tahun dengan bunga 2,5% kepada Indonesia (hal. 44).

Menurut catatan Michael Leifer, Rusia juga memberi bantuan senjata kepada Indonesia yang tengah menghadapi Belanda. Jika dihitung-hitung, Indonesia saat itu sebagai negara non komunis yang menerima bantuan militer tersebasar dari Uni Soviet. Indonesia juga sebagai penerima bantuan ekonomi terbesar setelah India dan Mesir. Kedekatan Bung Karno dengan Krushchev membuat Amerika geram dan cemburu.

Diplomasi Terra Incognita Bung Karno juga menyasar negara super power Amerika Serikat. Makna kunjungan Bung Karno ke Amerika Serikat pada awal Januari 1961, adalah momentum dan peluang luar biasa Indonesia untuk menjalin kerja sama. Bung Karno disambut luar biasa di bandara Washington DC oleh Presiden John F. Kennedy. Pada  tahun yang sama J.F. Kennedy pernah berujar: “Presiden Sukarno, I admire you greatly. Like myself you a searching, inquiring mind. You’ve read everything. You’re very well informed.”

Dari lawatan itu pula Indonesia mendapat bantuan ekonomi, dan pengiriman Peace Corps sebagai misi Amerika dalam upaya “Spirit of the New Frontier” dan dalam jangka panjang untuk membendung komunisme di Indonesia. Dari kedekatan kedua Fajar itu, Indonesia dapat membeli 10 pesawat Hercules tipe B ke Amerika. Dan Indonesia menjadi negara pertama di luar Amerika Serikat yang mengoperasikan pesawat angkut C-130.

  Persahabatan Bung Karno dengan Jawaharlal Nehru (Perdana Mentri India) juga tidak bisa dilupakan. Bung Karno dan Nehru ibarat saudara kandung satu peradaban. Keduanya memiliki hubungan personal yang dekat secara ideologi dan fisik. Kedekatan mereka seperti kakak-adik. Saat Indonesia masih dalam bayang-bayang Belanda pada tahun 1947-1948, Nehru dan rakyat India memberikan dukungan dan simpati. Bahkan nehru salah satu pemimpin dunia yang menentang keras Belanda dan Inggris. Nehru juga memberikan bantuan obat-obatan untuk mengurangi penderitaan rakyat Indonesia yang tengah diblokade Belanda. Maka sebagai balasan, pada tanggal 20 Agustus 1946, Bung Karno mengirimkan bantuan 500 ribu ton beras kepada India saat India dilanda kelaparan berkepanjangan. Padahal kondisi Indonesia tengah terseok-seok menata peradaban (hal. 82). 

Selanjutnya, persahabatan yang mendebarkan adalah persahabatan Bung Karno dengan Kim Il-Sung (orang nomor satu Korea Utara), ayah King Jong-Il dan kakek King Jong-un (Presiden Korut sekarang). Persahabatan Bung Korno dengan Kim Il-Sung tergolong langka, karena Korut selalu menutup diri dari dunia internasional, Korut hanya berteman dengan negara-negara tertentu. Tiongkok dan Vietnam misalnya. Alasan Korut menerima Indonesia, karena kedua negara memiliki kesamaan misi seperti menentang praktek kolonialisme dan imperialisme, dan pentingnya kemandirian suatu bangsa.  

Jalan diplomasi Bung Karno bisa diterapkan oleh pemangku kebijakan saat ini. Sikap visioner dan agresor Bung Karno adalah harga mati untuk kedaulatan bangsa Indonesia. Bung Karno adalah pahlawan dunia karena visinya “To Build the World Anew.” Seperti hakikat kemerdekaan, jalan diplomasi adalah jalan lurus menuju kemenangan.


Judul Buku        : Dunia dalam Genggaman Bung Karno
Penulis               : Sigit Aris Prasetyo
Cetakan              : I: Februari 2017
Penerbit              : Imania
ISBN                  : 978-602-7926-33-2
Tebal Halaman   : 354
Peresensi            : Khairul Mufid



















Share:

Kamis, 09 Februari 2017

Mengembalikan Marwah Esai Sastra

Banyaknya sastrawan baru yang suntuk menulis puisi, cerpen, dan novel, ternyata menjadi antitesis dengan minimnya kritikus sastra yang intens menulis esai atau kritik sastra. Ketidakberimbangan ini yang menyebabkan teks teks sastra yang jutaan jumlahnya itu telantar, karena tidak ada yang berdiskusi dan membicarakannya. Setelah generasi A. Teeuw, Maman S. Mahayana, Sutarji Calzum Bahri, Ignas Kleden, Gunawan Muhammad, dan Sapardi Djoko Damono ternyata sampai saat ini belum ada yang segagah mereka.

Maka buku karya Azwar ini seolah menjadi jawaban, dan usaha mengembalikkan marwah esai-esai sastra yang tajam, penuh fragmentasi, dan penuh kebaharuan agaknya mulai menemui jawaban. Di dalam buku mini ini menyimpan pesan mendalam akan seluk-beluk dunia kesusastraan kita dan di luar kita.

Pengayaan akan sastra sangat terasa ketika Azwar mampu menghadirkan beberapa nama sastrawan luar yang masyhur di telinga kita, bahkan nama-nama (baru) di telinga kita, tapi dikenal baik oleh Azwar. Seperti esai Mykola dan Kritik Sastra (hal: 31), dan esai Sang Penulis Peradaban dari Persia (Hal: 41). Azwar tajam membahasa sastrawan Rusia Nikolai Gogol dari Rusia, dan mengisahkan harga mahal syair Hakim Abol Ghasem Ferdowsi dari Persia (Iran).

Selain membahas pengarang sastra, Azwar juga menyajikan kritiknya terhadap beberapa teks-teks sastra. Misalkan dalam esai Rumi dan Syair-Syair Cinta yang Dibuat dan Dimilikinya, Sisi Purba Masyarakat Modern: Di balik Cerpen “Kisah Singkat Tentang Pekarangan”, Membicarakan Cerpen “Jaring-Jaring Merah” karya Helvy Tiana Rosa, dan nada-nada rayuan untuk menggandrungi sastra seperti esai Ajarkan Aku untuk Mencintai Sastra.

Hadirnya kumpulan esai yang dipadatkan dalam bentuk buku ini adalah tulisan lama yang dibiarkan terberai. Azwar menulis esai ini dari 2001-2013, yang banyak bersebaran di media cetak koran dan majalah. Dengan tanpa mengubah esensi esai aslinya, dan tentu ada perbaikan di sana-sini terlebih dahulu, kumulan esai ini tetap menjadi pelita di malam gulita. Dan yang lebih urgent, ada upaya menciptakan nuansa sastrawi lewat esai-esai sastra ala Azwar. Buku mini ini cocok bagi semua kalangan akademisi, mahasiswa, siswa, dan tentu bacaan wajib bagi penulis esai sastra.


Judul Buku    : Membaca Sastra, Membaca Dunia (Esai-Esai Terpilih tentang Sastra)
Penulis           : Azwar, S.S., M.Si.
Cetakan          : I, Desember 2016
Penerbit          : BASABASI
ISBN               : 978-602-391-317-6
Tebal Halaman: 176
Peresensi         : Khairul Mufid Jr*

 



Share:

Rabu, 18 Januari 2017

Prahara Babat Giyanti

Untuk kesempatan ini Sri Wintala Achmad menelusuri sejarah Babat Tanah Giyanti. Babat yang berisi kisah, perang, dan sketsa kehidupan tiga kerajaan besar (Surakarta, Yogyakarta, dan Praja Mangkunegaran). Ini Suatu laku luar biasa bagi Sri Wintala Achmad, karena untuk menyuntuki sejarah Nusantara tempo dulu (wabil khusus Pulau Jawa) ia akan menemukan duri-duri di setiap perjalanannya. Selain karena  kejelimetan dan sulitnya mencari data-data, seorang sejarawan atau penulis sejarah harus berperang dengan waktu dan kehidupan saat yang serba instan.

Dalam buku setebal tiga ratus halaman ini, kita akan dibawa untuk mengingat nama, tempat hari, tanggal, tahun, dan gejolak perang antarkerajaan yang begitu menegangkan. Di bagian awal buku ini mendiskripsikan tentang perselisihan Pangeran Mangkubumi dengan Tumenggung Martapura dan Pangeran Mangkunagara. Perang Sulawesi III, Palihan Nagari, dan beberapa hal tentang kecamuk kerajaan-kerajaan di pulau Jawa. Di bagian tengah buku ini menarasikan dengan detail isi Babat Giyanti, kisah dalam Babat Giyanti dan perjanjian Salatiga. Dan dibagian akhir berisi tentang suasana Surakarta setelah Palihan Nagari, Yogyakarta pasca Palihan Nagari, dan Praja Mangkunegaran pasca Palihan Nagari.

Babat Giyanti adalah sebuah syair dalam bentuk tembang macapat yang dikarang oleh Yasadipura tentang sejarah pembagian Jawa pada 13 Februari 1755. Sesudah keraton dipindahkan ke Surakarta dari Kartasura karena dibakar oleh orang Tionghoa, maka Pangeran Mangkubumi pun keluar dari keraton dan marah sampai memberontak. Sebab tanah bengkoknya dikurangi banyak sekali. Maka berperanglah dia melawan keraton Surakarta. Selama peperangan ini dia dibantu oleh banyak pangeran dan bangsawan lainnya, antara lain Pangeran Samber-Nyawa (Mangkunegara I). Lalu Pangeran Samber Nyawa dibuat panglima perang.

Babad Giyanti membahas peristiwa-peristiwa politik yang terjadi di pulau Jawa antara tahun 1741 dan 1757. Peristiwa-peristiwa ini ditulis menurut sudut pandang atau opini Yasadipura. Tahun 1746 merupakan sebuah lembaran hitam dalam sejarah Jawa. Sampai tahun 1746 wilayah Kasunanan Mataram mencakup seluruh bagian Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada tahun tersebut Mataram secara sekaligus kehilangan seluruh pesisir utara, dan bahkan di antara Pasuruan dan Banyuwangi semuanya hilang. Pada waktu yang sama muncul perang baru lagi di mana Mataram kehilangan separuh daerah yang masih ada. Lalu ketika perjanjian perdamaian ditanda tangani sembilan tahun kemudian, pada tahun 1755, paling tidak separuh penduduk Jawa tewas.

Alasan langsung bencana-bencana ini ialah kunjungan audiensi kepada Susuhunan yang dilakukan oleh Gubernur-Jenderal Van Imhoff pada tahun 1746. Beberapa tahun sebelumnya pesisir utara dan Jawa bagian timur dijanjikan kepada VOC, karena VOC telah membantu Sunan menumpas pemberontakan. Sekarang ini Van Imhoff menuntut janji sang Sunan. Sunan Pakubuwana II yang kala itu menjabat memang pernah menjanjikan daerah-daerah ini ketika ia sedang terjepit. Kala itu dia harus melarikan diri dari keraton sementara dikawal oleh para serdadu VOC (hal. 51-52).

Sunan Pakubuwana II memang tidak banyak mengenal damai dalam masa pemerintahannnya (1726-1749). Warga Tionghoa yang memberontak dan mengacau, karena alasan yang sangat berbeda dan sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Sunan yaitu karena ada pembantaian warga Tionghoa di Batavia pada tahun 1740, dan sebuah pemberontakan di Madura yang menjalar ke Jawa Timur. Selain itu di ibu kota sendiri, banyak pangeran-pangeran, “warisan” ayahnya yang memberontak meminta kekuasaan serta intrik-intrik keraton. Salah seorang pangeran yang banyak mengganggu sunan Pakubuwana II adalah kakaknya sendiri, pangeran Mangkunagara. Untungnya Pakubuwana II bisa membuangnya ke Sri Lanka berkat bantuan VOC. Namun bagi putranya, Raden Mas Said, hal ini menjadikan alasan untuk membangkang dan membalas dendam terhadap pamannya, Sunan Pakubuwana II. Karena Pakubuwana II tidak kuat melawan Raden Mas Said, maka dia menjanjikan imbalan bagi yang bisa mengusirnya. Seorang adik Pakubuwana II yang lain, pangeran Mangkubumi berhasil mengusir Raden Mas Said. Namun kemudian patih Sunan Pakubuwana II berpendapat bahwa imbalannya terlalu besar, padahal Sunan Pakubuwana II sebenarnya tidak apa-apa.

Masalah dengan Mangkubumi ini justru terjadi ketika Van Imhoff sedang meminta audiensi di keraton pada tahun 1746. Van Imhoff sebenarnya bersedia untuk membantu Sunan Pakubuwana II, maka diapun menegur Mangkubumi mengenai tuntutannya yang keterlaluan di tempat umum. Lalu Sunan Pakubuwana II memotong imbalannya sampai dua pertiga. Mangkubumi kehilangan mukanya dan tidak bisa tetap tinggal di keraton. Iapun pergi dan mencari kontak dengan Raden Mas Said, keponakannya yang telah diusirnya. Kehilangan muka Mangkubumi sebenarnya bukan satu-satunya alasan, meski alasan utama, menjauhnya Pakubuwana II dengan Mangkubumi. Pangeran Mangkubumi sebenarnya juga kurang setuju terhadap keputusan kakaknya menyerahkan daerah pesisir dan akan kompensasi VOC yang telah diberikan untuk pendapatan yang hilang.

Perang awalnya berlangsung buruk bagi sunan Pakubuwana II dan sekutunya, VOC. Mereka hanya bisa mempertahankan posisi mereka saja. Musuh mereka menyerang di seluruh pulau Jawa. Bahkan kota Surakartapun tidak aman. Mangkubumi menerapkan taktik perang gerilya.
Sementara ini Mangkubumi tujuannya tidak hanya membalas dendam saja, namun diapun ingin menjadi Sunan. Ketika Sunan Pakubuwana II pada saat berlangsungnya perang jatuh sakit dan mangkat pada tahun 1749, maka Mangkubumi memproklamasikan dirinya sebagai Susuhunan yang baru dan mendirikan keraton di Yogyakarta. Karena Surakarta dan VOC tidak mengakuinya, namun menobatkan putra Sunan Pakubuwana II menjadi Sunan Pakubuwana II, maka kala itu terdapat dua Susuhunan di Jawa.

Kala itu terlihat jelas bahwa kedua kubu tidak ada yang lebih kuat untuk mengalahkan yang lain. Maka kedua kubupun sadar dengan hal ini. Selain itu Gubernur-Jenderal Van Imhoff meninggal pada tahun 1750 dan digantikan oleh Jacob Mossel. Lalu Pangeran Mangkubumi sudah tidak akrab lagi dengan Raden Mas Said sehingga situasipun berubah. Raden Mas Said sendiri memiliki aspirasi untuk menjadi raja. Pada tahun 1754 mulailah rundingan antara Mangkubumi dengan VOC (tanpa melibatkan Raden Mas Said dan Sunan Pakubuwana III). Tawaran Mangkubumi untuk melawan Raden Mas Said, diterima oleh VOC dengan imbalan separuh wilayah kekuasaan Mataram yang masih ada. Tawarannya diterima oleh VOC tetapi kekuatan mangkubumi tidak cukup untuk mengalahkan mas Said. Pada tanggal 13 Februari 1755 perjanjian ini ditanda tangani di desa Giyanti, beberapa kilometer di sebelah timur Surakarta. Mangkubumi akhirnya mendapatkan gelar Sultan Hamengkubuwana I. Sunan Pakubuwana III tidak bisa berbuat lain daripada menerima kenyataan. Sementara itu Raden Mas Said dua tahun kemudian pada tahun 1757 memutuskan untuk menghentikan peperangan dengan syarat dia boleh menjadi raja. Tuntutannya dituluskan dan dia mendapat wilayah yang diambil dari wilayah Surakarta dan diperbolehkan menyebut dirinya Pangeran Adipati.


Judul Buku      : Babat Giyanti (Palihan Nagari dan Perjanjian Salatiga)
Penulis            : Sri Wintala Achmad
Cetakan           : I, Septermber 2016
Penerbit           : Araska
ISBN               : 978-602-300-293-1
Tebal Halaman: 300




Share:

Jumat, 16 Desember 2016

Ekologi Sastra di Bantaran Sungai

Peradaban dunia banyak dibangun dari peradaban sungai. Sungai menjadi ikon penting, yang diyakini manusia—dari pelbagai lini masa—sebagai sarana kelangsungan kehidupan, dan mengantarkannya pada gelanggang kemajuan yang sakral. Peradaban suatu bangsa/kelompok yang masyhur ialah menjaga ekosistem sungai pada koridornya agar tetap lestari. Sehingga  ekologi antara makhluk dan lingkungan tetap harmonis.

Melihat sungai adalah melihat sejarah. Banyak negeri yang masyhur karena mencipta peradabannya melalui sungai: seperti Mesir dengan Lembah Sungai Nil-nya, atau Mesopotamia yang bergantung pada Sungai Eufrat dan Tigris, India dengan Sungai Indus dan Sungai Gangga, China dengan Sungai Huang Ho (Kuning), dan tentang keangkeran Sungai Amazon di Amerika Selatan. Semuanya memiliki khazanah dan sejarahnya masing-masing. Bahkan, Sungai Nil (Mesir) oleh seorang ahli sejarah Yunani, Heredotus mengatakan “tanpa Sungai Nil Mesir tidak mungkin maju, Mesir adalah hadiah sungai Nil.” 
Share:

Kamis, 15 Desember 2016

Tiket Masuk Surga

Berbicara tentang surga, tentu dalam konteks hari ini tidak mubazir untuk diperdebatkan. Karena keagungan yang dimilikinya, serta menjadi orientasi final manusia dan menjadikan surga sebagai impian untuk lekas mendapatkannya. Surga tempat makhluk Allah dan orang-orang mukmin yang mengagugkan Allah akan hidup kekal dan abadi di sana.

Mafhum dipahami, di surga tidak ada malapetaka, lelah, sakit, luka, lesu, penat, bosan, malas, lapar, haus, dan sebagainya. Di sana hanya ada kesenangan, kemudahan, dan keindahan. Istana di dalam surga terbuat dari emas. Bebatuannya terbuat dari mutiara, zabarjad (batu mulia), dan yakut (permata). Pepohonannya tidak bisa dijelaskan karena kebaikan dan keindahannya.

Di sana juga terdapat buah-buahan yang enak, segar yang beragam. Di sana juga terdapat banyak burung keberuntungan yang senantiasa memanggil orang-orang muslim sejati ketika menginginkan dan mengharapkan sesuatu, tanpa meminta dan tidak perlu dan mengharapkan sesuatu, tanpa meminta dan tidak perlu memeras pikiran atau berjuang. Itu merupakan dambaan dan kenyataan, permohonan dan pelaksanaan.
Share:

Sabtu, 15 Oktober 2016

Jihad Melawan Terorisme

Istilah Black September (11 september 2001) adala
h idiom berkabung atas tragedi besar yang menggemparkan dunia dan memalukan negara superpower, Amerika Serikat. Bersamaan dengan itu masyarakat dunia prihatin dan empati kepadanya. Luluh lantaknya gedung World Trade Center (WTC) dan Pentagon telah mengubah mimik muka dunia setelah berakhirnya Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet tahun 1991. George W. Bush, presiden Amerika Serikat (ke-43) waktu itu naik pitam, gusar, dan mengumandangkan: Amerika Serikat perang melawan terorisme “Global War on Terror”.

 Belum terobatinya sakit hati dan duka para korban tragedi Black September. Pada 12 oktober 2002, dunia kembali dikejutkan dengan bom Bali I yang dikenal dengan sebutan Bali Blast, terjadi di pusat Hiburan diskotik Sari Club di Legian Bali Indonesia. Tidak hanya itu, pengeboman terjadi lagi di hotel JW. Marriot dan Ritch Calton Jakarta (05/08/03). Disusul bom Bali II (01/10/ 05). Hingga yang paling mutakhir pengeboman dan penembakan di Sarinah daerah sekitar Plaza, Jakarta 14 Januari 2016. Tragedi demi tragedi pengeboman seolah berlomba saling susul-menyusul dan tak bisa diprediksi kapan menyentuh garis finish. Dan inilah yang disebut Muhammad Taufiq “Semesta Terorisme” dalam bukunya (Serial Terorisme Demokrasi 2: Densus & Terorisme Negara).
Share:

Kamis, 14 Juli 2016

Aku Pasti Bisa Menulis


Judul Buku   : Panduan Lengkap Menjadi Penulis Handal
Penulis          : Sri Wintala Achmad
Cetakan         : I, Juni 2015
Penerbit        : Araska
ISBN               : 978-602-300-149-1
Tebal              : 14x20,5 cm, 224 Halaman
Peresensi       : Khairul Mufid Jr*

Banyak yang tumbang di tengah jalan ketika bermimpi menjadi seorang penulis, banyak yang gantung pena ketika sudah mulai menulis, dan banyak pula penulis sudah bisa menulis tapi pada akhirnya berhenti menulis karena ia tidak bisa berharap banyak pada kegiatan menulis. Akhirnya mereka terkapar mati di tepian (mimpi jadi penulis) padahal sudah lama sekali mereka tancapakan mimpi itu di dada dan berharap akan memanen buahnya kelak. Menjadi seorang penulis tidak mudah, tidak semudah membalikkan dua telapak tangan atau tidak semudah menghisap rokok lalu asapnya disemburkan ke segala penjuru. Menulis membutuhkan proses, ketekunan, kesabaran, dan bekerja keras.

Share:

Siapa Syekh Abdul Qadir Jailani?



Judul              : Berguru pada Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir  Jailani
Penulis          : Samsul Ma’arif
Penerbit        : Araska
Cetakan         : 1, April 2016
Tebal              : 14x20.5 cm, 220 Halaman
ISBN               : 978-602-300-246-7
Peresensi       : Khairul Mufid Jr*

Kemasyhuran Syekh Abdul Qadir al-Jailani di kalangan umat Islam Indonesia, bahkan dunia sudah tidak diragukan lagi. Orang Islam mengenal beliau sebagai “Pemimpin Para Wali.” Di dunia barat dikenal sebagai Syaikhul Islam dan Filsuf Islam. Bahkan seorang penulis muslim Jerman, Mehmed Ali Aini (1967) menyebut al-Jailani sebagai “Orang Suci Terbesar Dunia.”

Banyak perbedaan yang menyebutkan tentang tahun kelahiran Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Berdasarkan sumber yang banyak menyebutkan bahwa beliau lahir pada 470 H (1077 M) seperti dalam Mawa’idz karya Syekh Shalih Ahmad as-Syami. Ada pula yang mengatakan beliau lahir pada tahun 480 H (1078 M) dan wafat tahun 561 H (1166 M) di Baghdad.

Share:

Shio, dan Beberapa Misteri



Judul              : Kitab Peruntungan Shio
Penulis          : Liana Devi P.
Penerbit        : Araska
Cetakan         : 1, Januari 2016
Tebal              : 14x20,5 cm 204 Halaman
ISBN               : 978-602-300-207-8
Peresensi       : Khairul Mufid Jr*


Shio adalah simbol hewan yang mewakili 12 siklus tahunan dalam astrologi China. Dengan shio yang mewakili konsep siklus waktu telah menjadi kalender bulan China dan dibuat berdasarkan siklus dari bulan. Dalam kalender China, awal tahun dimulai antara akhir januari dan awal februari, sebuah metode siklus yang merupakan perekaman tahun ke dalam dua belas tanda hewan dan setiap tahun ditandai dengan nama hewan atau “Shio”.

Share:

Copyright © LAJANG KEMBARA | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com