• Khairul Mufid Jr

    Lahir di Sumenep-Madura Pada Kalender 16 Februari 1994, Sekarang Tinggal di Yogyakarta dan Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogakarta. Biasa menulis di media, seperti Jawa Pos, Suara Karya, Lampung Post, Koran Jakarta, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Tribun Jogja, Solo Pos, Riau Pos, Analisa, dll.

    Read More
  • Khairul Mufid Jr

    Lahir di Sumenep-Madura Pada Kalender 16 Februari 1994, Sekarang Tinggal di Yogyakarta dan Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogakarta. Biasa menulis di media, seperti Jawa Pos, Suara Karya, Lampung Post, Koran Jakarta, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Tribun Jogja, Solo Pos, Riau Pos, Analisa, dll.

    Read More
  • Khairul Mufid Jr

    Lahir di Sumenep-Madura Pada Kalender 16 Februari 1994, Sekarang Tinggal di Yogyakarta dan Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogakarta. Biasa menulis di media, seperti Jawa Pos, Suara Karya, Lampung Post, Koran Jakarta, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Tribun Jogja, Solo Pos, Riau Pos, Analisa, dll.

    Read More
  • Khairul Mufid Jr

    Lahir di Sumenep-Madura Pada Kalender 16 Februari 1994, Sekarang Tinggal di Yogyakarta dan Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogakarta. Biasa menulis di media, seperti Jawa Pos, Suara Karya, Lampung Post, Koran Jakarta, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Tribun Jogja, Solo Pos, Riau Pos, Analisa, dll.

    Read More
  • Khairul Mufid Jr

    Lahir di Sumenep-Madura Pada Kalender 16 Februari 1994, Sekarang Tinggal di Yogyakarta dan Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogakarta. Biasa menulis di media, seperti Jawa Pos, Suara Karya, Lampung Post, Koran Jakarta, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Tribun Jogja, Solo Pos, Riau Pos, Analisa, dll.

    Read More
  • Khairul Mufid Jr

    Lahir di Sumenep-Madura Pada Kalender 16 Februari 1994, Sekarang Tinggal di Yogyakarta dan Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogakarta. Biasa menulis di media, seperti Jawa Pos, Suara Karya, Lampung Post, Koran Jakarta, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Tribun Jogja, Solo Pos, Riau Pos, Analisa, dll.

    Read More

Selasa, 03 Januari 2017

Lamunan Nostalgik

Pesantren Darul Ihsan Sumenep
Sebagai sebuah paguyupan ilmu, Pondok Pesantren Darul Ihsan telah mencetak santri-santri penuh wawasan, religius, intelek, dan tentu diterima di masyarakat dengan baik. Dari awal berdiri hingga sekarang Pesantren Darul Ihsan menjadi barometer dan magnet untuk kawasan desa sekitar, kecamatan, bahkan kabupaten. Ini dibuktikan ketika banyak santri-santri militan yang banyak memenangkan event-event perlombaan di berbagai tingkatan, lomba pramuka misalnya.

Mengingat Darul Ihsan, tentu mengingat kedirian saya yang dimulai dari Pesantren ini. Mulai dari TK, MI, MTs, hingga MA, saya habiskan di pesantren tercinta ini. Selain karena saya juga berasal dari daerah yang sama, tentu tidak bisa dielakkan kalau pesantren ini memang posisinya di halaman rumah saya, yang sesekali senda gurau para santri, atau suara shawalatan terdengar ke bilik kamar saya. Yah, Darul Ihsan memang is the best.

Satu hal yang menjadi pijakan saya ketika di luar, yang saya dapat dari salah seorang ustad muda di pesantren ini mengatakan; “mon bedeh e dhisana oreng, sengak jhek her-beleheren, ben kengaeh oreng toanah, jhek mole mon kik tak sukses”. Maaf jimat ini tidak bisa di-translate ke bahasa Indonesia. Nah, pesan ini yang selalu menampar saya untuk tetap berdiri walau kadang angin pantai itu tiba-tiba jadi beliung.

Dalam beberapa menu kegiatan di Pesantren Darul Ihsan sangat konpleks, mulai dari kegiatan keagamaan, intelektual, kegiatan ekstra-kurikuler, pramuka, dan tentu kegiatan tahunan menyambut bulan maulid nabi, Lomba Pentas Ekspresi (LPE). Saya yakini kalau kegiatan perlombaan macam ini adalah baik untuk menunjang kreativitas, berani tampil, penuh persaingan, dan penggemblengan hidup. Namun, akhir-akhir ini ketika saya pantau dari berbagai sumber, ketika LPE dimulai sering terjadi lelaku kurang etis di antara kontestan. Sampai ada kelompok-kelompok militan yang berani menghasut santri-santri lain untuk juga larut dalam kebencian. Sehingga apa yang terjadi, akan ada gap atau jurang pemisah antara kompetitor yang mewakili kelasnya masing-masing.

Dalam kompetisi itu memang biasa terjadi, pilkades, pilkada, atau event olahraga Sea Games misalnya. Tapi sangat disayangkan kalau ini dimulai dari bawah (peantren, misalkan) sehingga efeknya akan menjamur ke adik-adik kita kelak. Apalagi menggunakan cara tidak waja.

Yah.. begitulah hidup, kita memang selalu berkompetisi dengan siapa pun dan kapan pun. Tapi ingat, kita harus profesional, kedepankan sportifitas, dan keep and touch (jaga komunikasi).


Share:

Sabtu, 31 Desember 2016

Holocaust Etnis Rohingya

Manusia Perahu Etnis Rohingya
Isu Rohingya kembali viral dan menjadi perbincangan hangat di penghujung tahun ini. Dimulai ketika pembunuhan sembilan penjaga perbatasan di Rakhine Utara (Myanmar) oleh kelompok militan Islam Rohingya pada 09 Oktober 2016, dan ditambah dengan perusakan tiga pos keamanan di wilayah yang sama dan oleh kelompok yang sama. Sehingga tragedi itu membuat militer Myanmar dan otoritas pemerintah “amarah” dan melakukan tindakan-tindakan abnormal, keji, kotor, bahkan genderang pembersihan etnis (ethnic cleansing) Rohingya kian ditabuh-kencang. Inilah holocaust (penghancuran/genosida) yang tidak bisa dilupakan begitu saja.

Berbicara holocaust mengingatkan kita pada tragedi Nazi Jerman pada Perang Dunia II, ketika sang komandan Adolf Hitler beserta militernya membunuh jutaan kaum Yahudi dengan tanpa ampun. Pembasmian massal manusia tidak hanya itu saja, holocaust pada akhir abad ke-20 juga pernah menimpa jutaan penduduk sipil di Kamboja oleh Khmer Merah maupun Bosnia oleh Ultra Nasionalis Serbia serta suku Tutsi dan Hutu oleh Interahamwe di Rwanda. Bahkan, dalam dekade pertama abad ke-21, peristiwa serupa kembali terjadi dan menimpa Muslim Rohingya di Rakhine, Myanmar.

Jauh sebelum meletus isu Rohingya tahun 2012, sebenarnya etnis Rohingya telah mengalami diskriminasi masif selama puluhan tahun, baik oleh negara maupun etnis mayoritas yang kebetulan beragama Buddha. Sebelum Burma merdeka pada 1942, ternyata sudah ada benih-benih kekerasan  terhadap etnis Rohingya walaupun tensinya lebih rendah. Hingga Burma merdeka holocaust terhadap etnis Rohingya di negeri pagoda itu terus berlanjut hingga sekarang. Puncaknya pada bulan oktober-November 2016, terjadi pembantaian etnis Rohingnya untuk kesekian kalinya, dan mengakibatkan 100 korban meninggal, 3.000 anak mengalami malnutrisi, puluhan perempuan diperkosa, dan 1.200 bangunan dibakar. Maka tak ayal, mereka berbondong-bondong hengkang dari negara asal, tanpa tujuan yang jelas, tanpa perbekalan cukup, dan nekat mengarungi samudera walaupun ujungnya maut yang mereka temukan.

Abstain

Holocaust etnis Rohingya oleh militer dan mayoritas umat Buddha Myanmar sejatinya melanggar Statuta Roma pada 1998 tentang International Criminal Court (ICC). Dimana holocaust ala Myanmar dalam bentuk state violence (negara melakukan genosida) ethnic cleansing (pembersihan etnis) maupun kejahatan terhadap kemanusian itu adalah pelanggaran HAM berat, baik secara kumulatif maupun alternatif.

Namun otoritas Myanmar berdalih bahwa “mereka bukan warga negara kita, dan kita tidak mengenal mereka”. Hal ini diperparah ketika masyarakat internasional mengecam, justru Myanmar menunjukkan Undang-undang Kewarganegaraan pada tahun 1982, yang isinya sangat rasial, dan menyudutkan Rohingya. Kemudian pada tahun 2012 otoritas Myanmar menegaskan kembali bahwa Rohingya tidak boleh menjadi warga negara Myanmar. Sehingga mereka tidak mempunyai negara (stateless).

Bahkan masyarakat internasional tambah bingung, ketika state couselor (Perdana Menteri) Aung San Suu Kyi tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah terpilih sebagai Perdana Menteri Myanmar pada 06 April 2016, sebetulnya banyak harapan dan pencerahan dipundaknya, terutama bagi etnis Rohingya. Tetapi sebaliknya, Suu Kyi abstain dan mencari tempat aman di bawah bayang-bayang statusnya sebagai peraih nobel perdamain pada tahun 1991 itu. Apalah arti nobel bagi Suu Kyi? Inilah yang harus dipertanyakan manakala ia tetap melakukan pembiaran terhadap tragedi kemanusian yang menimpa negaranya.

Ketika ribuan pengungsi Rohingya semakin membeludak di kawasan Asia Tenggara seperti Bangladesh, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Lagi-lagi Organisasi ASEAN juga tutup mata terhadap tragedi itu, prinsip non-intervensi yang diusung ASEAN terlalu mengekangnya untuk berbuat sesuatu, sehingga ASEAN juga memilih abstain dan memasrahkan kepada setiap negara anggotanya yang tengah berkonflik. Tapi yang perlu diingat masyarakat ASEAN itu satu tubuh,  ketika salah satu organ tubuh sakit maka harus dipahami nyerinya akan dirasakan ke organ tubuh lainnya. Jika ASEAN tetap demikian, maka benar yang dikatakan Suargana Pringganu “Masyarakat ASEAN akan seperti raksasa berjalan di dalam lumpur”.

Proaktif dan Pasif

Melihat tragedi holocaust etnis Myanmar, sebenarnya ada baiknya pihak penengah menggunakan pendekatan yang didengungkan Dinna Wisnu, yakni dengan proaktif dan pasif, dan keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Pertama, menggunakan cara proaktif, suatu negara yang mencoba jadi penengah atas isu Rohingya akan dituntut secara gigih menggali informasi dari Myanmar tentang dimensi-dimensi masalah kekerasan di Rakhine (Arakan), termasuk juga mengukur besaran konflik untuk kemudian dapat disulkan secara bilateral solusinya. Tapi harus diingat negara penengah harus dapat menjamin bahwa kekerasan tidak akan berlanjut. Cara proaktif bisa tetap diplomatis, tidak konfrontatif dan tidak memalukan Myanmar.

Pendekatan kedua menggunakan cara pasif, negara penengah akan dituntut lebih banyak wait and see, bicara dengan otoritas Myanmar tetapi cenderung fokus pada aspek yang ditawarkan Myanmar saja, dengan harapan agar tiap langkah negera penengah tidak disalahartikan. Pendekatan pasif ini tergolong aman baik dari segi persepsi, sumber daya, maupun perencanaan. Namun kekurangannya adalah tidak mustahil korban masih akan terus berjatuhan dan yang tidak sabar akan menggunakan isu ini sebagai amunisi untuk menuding ketidakberdayaan negara dalam melindungi muslim di Myanmar. Dari kedua pendekatan ini, naifnya mayoritas negara ASEAN memilih cara kedua. Selain dirasa aman dan karena susahnya mendekati Myanmar, mereka lupa jutaan etnis Rohingya masih terkatung-katung di lautan dan ketika sampai pesisir mereka malah diusir.


Share:

Prahara di Langit Desember

Berada di ujung tahun laksana berada di atas bukit. Dari atas bukit akan terbentang cakrawala maha luas, eksotis, dan tak terbatas. Dari atas bukit mata diberi kesempatan melihat pelbagai panorama, dan kesempatan melihat ke dalam diri tentang perasaan nelangsa yang membayangi masa lalu, masa kini, dan masa depan manusia.

Berada di ujung tahun adalah memparadekan debar jiwa. Dimana sebagian kita kadang terjebak pada gerbong hura-hura, sengaja mewarnai langit dengan kembang api, membisingi ruang dan waktu dengan suara leking terompet, dan kadangkala muda-mudi (mohon maaf) melucuti keperawanannya demi satu malam yang katanya sakral itu. Demi malam itu sebagian kita berharap semburat fajar kebaharuan yang telah lama lucut dari adabnya. Dan menghunjamkan spirit “kelahiran kembali” yang lahir dari kesadaran baru.

”Lahir” sebagai simbol terlepasnya diri dari sekapan kegelapan, dari keyakinan menikung yang tak membawa pencerahan dan dari gelegak nafsu yang dapat menjungkalkan marwah kemanusiaan ke tubir kehinaan. Dan ”baru” sebagai metafora kehidupan dengan semangat yang berbeda dari sesuatu yang kita anggap ”lama”.

Lebih luas lagi, seperti didengungkan Bang Asep Salahudin bahwa ”baru” itu satu tubuh dengan kebudayaan yang berjangkar pada etos penciptaan kebeningan batin (Cicero), keluhuran nalar (Raymond Williams), kekukuhan menjunjung tinggi nilai universal (Kant), daya imajinasi kreatif (Schiller), terus mengupayakan  terwujudnya masyarakat sempurna (EB Taylor) melalui gelegak daya kehidupan dengan membiarkan insting natural menemukan katupnya yang optimal (Nietzsche).

Ketika berada di ujung tahun, sepatutnya dijadikan momentum meraih pembebasan, meneguhkan sikap keterbukaan dan penegasan posisi dari keberagamaan dan kebernegaraan kita. Karena bagaimanapun kita akan mengkonstruksi konsep diri kita dengan mengendarai waktu. Ini barangkali yang jadi alasan metafisis, dalam ajaran Islam, Tuhan banyak bersumpah menggunakan diksi yang berdimensi waktu. Sebut saja: demi masa (wal ashri), demi malam (wal laili), demi siang (wan nahari), demi fajar (wal fajri), demi bulan (wal qamari), demi matahari (wasy syamsi), demi waktu duha (wadh dhuha).

Hasan al-Basri menambahkan tentang prahara waktu, “Hai anak Adam, sesungguhnya hidup kamu adalah himpunan hari-hari. Setiap hari milikmu itu pergi, berarti pergilah jua sebagian darimu”.

Tapi kadang kita terperangkap pada kata “waktu”. Kata “waktu” akan menjadi antitesis ketika dikawinkan dengan “baru”, keduanya memiliki ruas dan rel masing-masing dan tak bisa disatu-ranjangkan. Waktu tak pernah mengalami kebaharuan meskipun hari, bulan, tahun, dan abad telah berguguran. Waktu berjalan linear: melesat cepat ke depan menembus berbagai zaman meski penghuni semesta ini telah ribuan kali berganti dan berguguran. Bersama kecepatan pula kemudian sejumlah imperatif kehidupan hilang. Sehingga pada titik nadir ini, untuk apa mengucapkan “selamat tinggal Desember” dan “selamat datang Januari”.

Barangkali kita akan sedikit merasa tertusuk-tusuk untuk tidak melakukan lelaku mubazir di ujung tahun ketika membaca sajak Nota Bulan Desember karya Penyair Ahmad Nurullah: Tak perlu kuucapkan “selamat tinggal” pada detik terakhir bulan Desember / dan “selamat datang” untuk detik awal Januari / Untuk apa? Segala waktu sama / Waktu adalah sumbu semua sejarah, ibu segala kepedihan.  Almanak pun jatuh. Telungkup. Tahun bersalin / Tapi, di antara detik-detik yang gugur, bulan-bulan membusuk / hari-hari berkarat, dan jam yang menguning, banyak hal yang masih lengket—berkecamuk dalam kenangan.

Bahkan di bait ketiga dan keempat Nurullah seakan memparodikan keputusasaannya akan makhluk yang bernama waktu itu. Seperti almanak yang tajuh ia gambarkan tentang egoisnya waktu yang melibas beberapa peristiwa dan tragedi. Dalam konteks negeri ini misalnya, ketika waktu mempertontonkan tanah meledak, kota-kota terbakar, AIDS, flu burung, demam berdarah, busung lapar, fluktuasi BBM, harga-harga menjerat leher. Atau dalam rentang 12 bulan tahun 2016 misalnya, ditemukan isu bom dan terorisme, LGBT, reshuffle Kabinet, banjir Garut dan Bima, korupsi, pembakaran tempat ibadah, aksi demonstrasi 411 dan 212, pesona kopi Jesicca, bahkan berita nahas kegalaan Timnas Garuda mengangkat Piala AFF untuk yang kelima kalinya.

Sedangkan dalam konteks lintas batas garis teritorial, kita jumpai tragedi holocaust etnis Rohingya di Myanmar, ISIS di Irak dan Suriah, gelombang pengungsi Timur Tengah yang membanjiri Eropa, Brexit (British Exit), konflik Bashar al-Assad dengan oposisi, konflik Syiah-Sunni, bom di Turki, terpilihnya Antonio Gutteres sebagai Sekjen PBB, mangkatnya Raja Thailand Bhumibol Adulyadej, mangkatnya Komandan Fidel Castro, dan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden ke-45 Amerika Serikat yang diluar dugaan melenggang mulus menyingkirkan Hilary Clinton. Tapi waktu tak peduli. Waktu terus berjalan, mengusung detak-detaknya, diam-diam menyembunyikan wajahnya di balik paras bulan merekah. Waktu adalah siluman yang pandai menyamar.

Lalu apa yang baru dari waktu? Apa yang hendak kita rayakan pada tahun baru?. Dengan nada dan getar yang sama, atau bahkan lebih lirih lagi Nurullah kembali membatin: Seperti waktu, akupun terus berjalan: gelisah oleh tatapan / mata bulan. Gemetar di bawah kerling matahari / sebab, gara-gara waktu, banyak hal berdesak untuk diingat / dan aku berjuang untuk lupa—sebagai jalan / pembebasanku. 

Maka diujung tahun ini, dengan tanpa niatan menyakiti penyuka gemerlap malam pergantian tahun. Alangkah etis dan beradabnya kita menyerobot kopi ditemani sebungkos rokok saja di rumah, atau duduk di kursi goyang sambil mendengarkan lagu Auld Lang Syne karya Robert Burns (penyair Skotlandia), yang liriknya berkisah tentang persahabatan, persaudaraan, dan menyiratkan pentingnya mengenang dan merenungkan peristiwa yang sudah-sudah. 










Share:

Jumat, 16 Desember 2016

Ekologi Sastra di Bantaran Sungai

Peradaban dunia banyak dibangun dari peradaban sungai. Sungai menjadi ikon penting, yang diyakini manusia—dari pelbagai lini masa—sebagai sarana kelangsungan kehidupan, dan mengantarkannya pada gelanggang kemajuan yang sakral. Peradaban suatu bangsa/kelompok yang masyhur ialah menjaga ekosistem sungai pada koridornya agar tetap lestari. Sehingga  ekologi antara makhluk dan lingkungan tetap harmonis.

Melihat sungai adalah melihat sejarah. Banyak negeri yang masyhur karena mencipta peradabannya melalui sungai: seperti Mesir dengan Lembah Sungai Nil-nya, atau Mesopotamia yang bergantung pada Sungai Eufrat dan Tigris, India dengan Sungai Indus dan Sungai Gangga, China dengan Sungai Huang Ho (Kuning), dan tentang keangkeran Sungai Amazon di Amerika Selatan. Semuanya memiliki khazanah dan sejarahnya masing-masing. Bahkan, Sungai Nil (Mesir) oleh seorang ahli sejarah Yunani, Heredotus mengatakan “tanpa Sungai Nil Mesir tidak mungkin maju, Mesir adalah hadiah sungai Nil.” 
Share:

Kamis, 15 Desember 2016

Tiket Masuk Surga

Berbicara tentang surga, tentu dalam konteks hari ini tidak mubazir untuk diperdebatkan. Karena keagungan yang dimilikinya, serta menjadi orientasi final manusia dan menjadikan surga sebagai impian untuk lekas mendapatkannya. Surga tempat makhluk Allah dan orang-orang mukmin yang mengagugkan Allah akan hidup kekal dan abadi di sana.

Mafhum dipahami, di surga tidak ada malapetaka, lelah, sakit, luka, lesu, penat, bosan, malas, lapar, haus, dan sebagainya. Di sana hanya ada kesenangan, kemudahan, dan keindahan. Istana di dalam surga terbuat dari emas. Bebatuannya terbuat dari mutiara, zabarjad (batu mulia), dan yakut (permata). Pepohonannya tidak bisa dijelaskan karena kebaikan dan keindahannya.

Di sana juga terdapat buah-buahan yang enak, segar yang beragam. Di sana juga terdapat banyak burung keberuntungan yang senantiasa memanggil orang-orang muslim sejati ketika menginginkan dan mengharapkan sesuatu, tanpa meminta dan tidak perlu dan mengharapkan sesuatu, tanpa meminta dan tidak perlu memeras pikiran atau berjuang. Itu merupakan dambaan dan kenyataan, permohonan dan pelaksanaan.
Share:

Rabu, 30 November 2016

Kuba pada Persimpangan Jalan

Google.com
Sang Comandante Fidel Alejandro Castro Ruz, telah meninggal dunia pada jumat (25/11) pukul 10:30 malam waktu setempat. Kuba tidak lagi memiliki El jeve maximo, seorang pemimpin, bos, revolusioner, dan komandan tertinggi yang menakhodai Kuba dari 02 Desember 1976 sampai 24 Februari 2008. Ia meninggal pada usia ke-90, karena sakit yang dideritanya selama satu dekade rakhir.
Pada 24 Februari 2008, sebelum ajal menjemputnya, Fidel menyerahkan tampuk kekuasaan kepada adik kandungnya Raul Castro (85), yang usianya juga telah lanjut. Selain meneruskan estafet kediktatoran kakaknya, Raul Castro adalah politikus gerontokrat yang sulit dihapuskan dari ingatan Los Cubanos (Masyarakat Kuba), karena ia juga terlibat dalam revolusi Kuba tahun 1959.

Sejak kemenangan Revolusi Kuba, 01 Januari 1959, Fidel Castro bisa dibilang kepala pemerintahan terlama di dunia yakni hampir lima dekade. Meskipun tidak selama Raja Bhumibol dan Ratu Elizabeth II,  Fidel menjadi pesohor terakhir, sebagai pengawal komunisme internasional sepanjang abat ke-20 dan awal abad ke-21. Pesohor lainnya, katakanlah Mao Zedong (China), Ho Chi Minh (Vietnam), dan sahabat karibnya Che Guevara (Kuba) telah lama mangkat mendahuluinya.

Ucapan simpati dan dukacita berdatangan dari berbagai belahan dunia. Dari Amerika Serikat, Obama dan mantan Presiden Jimmy Carter menyatakan duka citanya dan mendeskripsikan kenangan nostalgiknya ketika berkunjung ke Kuba. Ucapan dukacita juga datang dari Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto, Presiden Venezuela Nicolas Maduro, dan Presiden Indonesia Joko Widodo. Sedangkan presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dalam Twitter dengan kalimat singkat yang terkesan sarkas: “Fidel Castro is dead..!”.

Kematian Fidel menyisakan ambivalensi global, terutama bagi rakyat Kuba yang “mencintai” dan yang “membenci”. Bayangkan saja, ketika rakyat Kuba yang mencintai tengah berlinang air mata, kelompok  pembenci tengah bersorak gembira merayakan meninggalnya Fidel Castro yang telah menginjak hak asasi rakyat selama 50 tahun lebih. Kelompok pembenci ini adalah komunitas pelarian Kuba (Cuban Exile), yang eksodus ke beberapa negara bagian Amerika Serikat, Florida salah satunya. 

Dunia mengakui kalau sosok Fidel adalah simbol terpenting perlawanan kaum minoritas dan tertindas akibat penjajahan. Hingga menjelang akhir hayatnya, Fidel secara konsisten tetap menyuarakan perlawanan terhadap upaya kekuatan asing, terutama Amerika Serikat yang mengeruk kekayaan dan merenggut peradaban Kuba sebelum revolusi 1959. Karena menurut Fidel; “Revolusi bukanlah tempat tidur bertabur mawar merah. Revolusi adalah perjuangan mati-matian antara masa lalu dan masa depan” (penggalan pidatonya, pada Januari 1961). 

Selama hidupnya Fidel Castro, tercatat ada 638 kali upaya pembunuhan Fidel dilakukan. Namun, hingga terjadi 10 kali pergantian Presiden Amerika Serika dari Kennedy sampai Barrack Obama, Fidel tetap selamat dan posisinya tetap tak tergoyahkan.

Maka setelah kematian Fidel Castro banyak spekulasi berhamburan tentang masa depan Kuba. Akankah halaman sejarah Kuba berubah?. Benarkah revolusi akan tinggal nama?. Dan seperti apa masa depan hubungan Kuba-Amerika Serikat yang dulu sempat harmonis ketika masa pemerintahan Fulgencio Batista.

Era Keterbukaan

Pada tanggal 03 Desember 1961, Amerika Serikat mengembargo Kuba. Tapi Fidel tak gentar, dan ketika Fidel melakukan kunjungan luar negeri pertamanya sebagai Presiden Kuba ke Amereka Serikat. Ia bersikap tegas dan berpaling ke Uni Soviet yang pada saat itu juga merupakan salah satu spektrum dunia.

Tapi, malapetaka datang ketika di tahun 1991 Uni Soviet runtuh dan menyebabkan krisis multidimensional. Laiknya Domino Hill yang roboh, imbasnya pun menimpa Kuba. Puncaknya, ketika Presiden Gorbachev (Rusia) menghentikan subsidi dari Moskwa ke Havana. Kasus itu membuat Kuba makin terpuruk dan mengalami kesulitan pasokan makanan. Fidel hanya mencanangkan dimulainya “periode spesial” dimana dia meminta rakyatnya untuk bersabar dan lebih mengencangkan ikat pinggang.  Tapi Rakyat merespon negatif, maka meletuslah demonstrasi dimana-mana, yang menuntut Fidel turun gunung, lengser dari presiden.

Fidel memang penuh teka-teki, ia sempat menyatakan bahwa tidak perlu menjalin hubungan perdagangan dengan Amerika Serikat. Namun pada tahun 1993, ketika Kuba memang benar-benar bergejolak, keadaan memaksa Fidel melegalkan Rakyat Kuba memegang dollar AS, yang dibelanjakan para wisatawan atau kiriman dari para keluarga pelarian Kuba yang di Amerika Serikat.

Maka setelah kematian Fidel, dan Kuba di bawah kendali Raul, banyak restorasi kebijakan untuk mendongkrak krisis internal Kuba. Salah satunya usaha normalisasi hubungan AS-Kuba yang sepakat untuk bersama-sama menggalang hubungan diplomatik, membuka jalan normalisasi hubungan bilateral di akhir bulan Desember 2014.

Hal ini ditandai dengan membebaskan tiga personil intelijen Kuba yang ditangkap, dan Kuba membebaskan mata-mata berkewarganegaraan Amerika Serikat yang telah ditahan selama 20 tahun. Kemudian dilanjutkan pembukaan kedutaan besar di Havana dan Washinton pada tanggal 20 Juli 2015. 

Role Dilemma

Setelah kematian Fidel Castro, banyak pengamat memprediksi masa depan Kuba menjadi misteri dan semi abu-abu. Kuba sekarang mengalami Vacum of Power,hilangnya seorang pemersatu yang disegani. Atas nama rakyat yang bingung, maka tak ayal mereka tengah tiba di persimpangan jalan, dan menuntut mereka untuk lekas memilih jalan kanan atau jalan kiri.

Mereka merasakan Role Dilemma (dilema untuk berperan dan dilema yang ganda). Dalam artian, rakyat dilema untuk mengikuti nakhoda Raul Castro yang cenderung ke-kanan-kananan. Atau mempertahankan identitasnya sebagai negara sosialis satu-satunya di Westren Hemisphere (belahan bumi barat).

Menurut Richard L Harris (1992), Rakyat Kuba sampai kapanpun akan terngiang-ngiang dengan penegasan Fidel bahawa komitmen Negara Kuba tidak akan mengadopsi jenis reformasi ekonomi-politik Amerika, bekas Uni Soviet, Eropa, bahkan dari negara dan kawasan manapun.

Memang komitmen Fidel tidak tanggung-tanggung. Ia berkomitmen untuk menyejahterakan rakyat, sehingga mencanangkan lahirnya masyarakat Kuba (Los Cubanos) yang baru dan beradap. Dari peningkatan kualitas pendidikan, jaminan kesehatan, dan pengadaan perumahan  menjadi prioritas bagi masyarakat. Meski Kuba pernah krisis akut usai hancurnya Uni Soviet, Fidel mampu mengangkat likuiditas keuangan, meningkatkan insentif buruh, dan menangani kelangkaan makanan, barang-barang konsumen, dan jasa (Nur Iman Subono, 2006).   

Inilah yang membuat Rakyat Kuba harus berfikir dua kali, tentang berbagai perombakan tatanan Kuba yang kadung dilakukan Raul Castro. Rakyat masih meyakini, bahwa kesejahteraan di era Fidel tidak akan didapatkan dari pemimpin demokratis manapun. Apalagi Raul telah mengumumkan pengunduran dirinya di tahun 2018. Lebih jauh lagi terpilihnya Donald Trum tentunya akan membuka halaman baru Hubungan Amerika Serika-Kuba yang lebih eksentrik.




Share:

Jumat, 25 November 2016

Sekaten, Kisah Sukses Akulturasi Budaya

Tradisi Sekaten dirayakan kembali tahun ini, sebuah momentum luhur yang sangat dinanti masyarakat kota Madya Yogyakarta. Setiap tahunnya limpahan masyarakat memadati area Keraton Yogyakarta. Apalagi pengunjung Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS), yang digelar di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta tak pernah surut setiap malamnya. Dengan semangat religius, historis, dan kultural yang diusungnya, perayaan Sekaten dimaknai sebagai kristalisasi budaya, islamisasi, keramaian, pesta rakyat, hiburan dan menjadi ritual wajib masyarakat Yogyakarta setiap tahunnya.

Tradisi Sekaten berawal dari bangkitnya Islam di Jawa pada abad ke-16. Waktu itu Kerajaan Demak berhasil mengakuisisi kekuasaan di Pulau Jawa setelah Kerajaan Majapahit runtuh. Dalam perkembangannya, perayaan Sekaten kemudian dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga dan para Walisongo. Para Wali ini berhasil menyatupadukan budaya setempat dengan nilai-nilai keislaman. Utamanya menggunakan kesenian karawitan (Gamelan Jawa) untuk memikat hati masyarakat.

Perayaan Sekaten diselenggarakan pada bulan Rabiul Awal, tanggal 06 sampai dengan 12, bersamaan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sedangkan pasar malam Sekaten sendiri berlangsung satu purnama penuh sebelum 12 Rabiul Awal. Selain PMPS, ada rentetan acara didalamnya yang tidak bisa dilewatkan. Seperti; Miyos Gongso dan Ungeling Gamelan, Numplak Wajik, Kinang (Jawa: nginang), Gunungan atau Gerebeg Maulud, dan makanan-mainan khas Sekaten seperti (telur asin, pecut, celengan, endog abang, gasing), yang kemudian bertranformasi kini menjadi PMPS yang lebih komersial dan hedonis.
Share:

Selasa, 15 November 2016

Dari Fundamentalisme ke Radikalisme

Google.com
 “Kita tengah berduka, kita telah lama terluka”. Begitulah anasir yang pas untuk mendiskripsikan suasana batin Umat Islam sedunia saat ini. Peradaban Islam telah hancur, perang saudara tak kunjung final, dan Barat terus mengintai, seolah-seolah mengulurkan tangan padahal tertawa di puncak gedung bertingkat nan megah itu. Maka tak ayal kalau sifat reaksionis umat Islam berbau kekerasan terjadi dimana-mana. Fundamentalisme dan radikalisme salah satunya.

Fundamentalisme adalah istilah relatif baru dalam kamus peristilahan Islam. Karena secara historis penggunaan istilah ini berkait-kelindan dengan kebangkitan fundamentalisme  dalam gereja Protestan, khususnya di Amerika Serikat dan Kanada sebagai reaksi terhadap gerakan reformisme dan liberalisme.

Istilah “Fundamentalisme Islam” sendiri mulai populer beriringan dengan terjadinya Revolusi Islam Iran pada 1979, yang memunculkan kekuatan muslim radikal dan fanatik yang siap mati melawan the great Satan, Amerika Serikat. Kemudian sejak runtuhnya komunisme pada tahun 1991, Barat menjadikan agama Islam (secara umum) dan kelompok Fundamentalisme (secara khusus) sebagai musuh dan target baru, serta memusatkan politik luar negeri mereka kepadanya. Apalagi makin kesini, Barat mulai menancapkan sistem pemerintahan demokrasi, ideologi liberal, ekonomi kapitalis, serta isu sektarianisme.

Fundamentalisme Islam juga masyhur dengan istilah ushuliyyun, yakni kelompok yang berpegang kepada fundamen-fundamen pokok Islam sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Dalam kaitan ini pula digunakan istilah al-Ushuliyyah al-Islamiyyah, yang mengandung pengertian kekuasaan politik ummah: dan pengukuhan dasar-dasar otoritas yang absah. Formulasi ini seperti terlihat lebih menekankan dimensi politik gerakan Islam, ketimbang aspek keagamaannya. (Azyumardi Azra, Pergolokan Politik Islam, 1996. Hal:109)

Menurut sosiolog agama, Marty, gejala Fundamentalisme Islam muncul dengan berbagai prinsip: pertama, Fundamentalisme Islam bersifat oppositionalism (paham perlawanan). Kedua, penolakan terhadap hermeneutika. Dengan kata lain, kaum Fundamentalis menolak sikap kritis terhdap teks dan interpretasinya. Ketiga, penolakan terhadap pluralisme dan relativisme. Bagi kaum Fundamentalisme, pluralisme merupakan hasil dari pemahaman dan sikap keagamaan yang tidak selaras dengan pandangan kaum Fundamentalis merupakan bentuk dari relativisme keagamaan, yang terutama muncul tidak hanya dari intervensi nalar terhadap teks kitab suci, tetapi juga karena perkembangan sosial kemasyarakatan yang telah lepas dari kendali agama.

Dan yang keempat, adalah penolakan terhadap perkembangan historis dan sosiologis. Kaum fundamentalis berpandangan, bahwa semakin jauh masyarakat dari doktrin literal kitab suci. Perkembangan masyarakat dalam sejarah dipandang sebagai “as it should be” bukan “as it is”. Dalam kerangka ini, adalah masyarakat yang harus menyesuaikan perkembangannya, kalau perlu secara kekerasan dengan teks kitab suci. Bukan sebaliknya, teks atau penafsirannya yang mengikuti perkembangan masyarakat.

Fundamentamentalisme Islam Pra-Modern dan Modern

Fundamentalisme Pra-Modern, muncul disebabkan situasi dan kondisi tertentu di kalangan umat Islam sendiri. Karena itu, ia lebih genuine dan inward oriented, berorientasi ke dalam diri kaum Muslim sendiri. Seperti tentang gerakan Khawarij yang dapat diebut sebagai gerakan Fundamentalis Islam klasik, yang pada gilirannya mempengaruhi banyak gerakan Fundamentalis Islam sepanjang sejarah. Gerakan Khawarij yang muncul dari pertikaian Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, terkenal dengan prinsip-prinsip radikal dan ekstrim; bagi mereka tidak ada hukum, kecuali hukum Allah SWT.

Kemudian gerakan Fundamentalis Pra-Modern lainnya seperti gerakan Wahabi di semenanjung Arabia (1703). Di Nigeria Utara, Syaikh “Utsman” dan Fodio (1754-1817) yang melancarkan aksi jihad memerangi penguasa Muslim dan pendukungnya yang korupsi, dan mencampur-adukkan budaya lokal dengan praktek-praktek Islam. Gerakan jihat juga muncul di Afrika Barat, di bawah pimpinan al-Hajj Umar Tal (1794-1865). Gerakan Fundamentalisme Umar Tal juga menyebar di wilayah-wilayah yang sekarang termasuk Guinea, Senegal, dan Mali. Bahkan gerakan Fundamentalis yang mirip dengan Wahabi juga telah muncul di Indonesia, dikenal dengan Gerakan Padri Minangkabau.

Sedangkan Fundamentalisme Modern lebih outward oriented, berorientasi ke/dari luar kaum Muslim sendiri, ia bangkit sebagai reaksi terhadap penetrasi sistem dan nilai sosial, budaya, politik, dan ekonomi Barat, baik akibat kontak langsung dengan Barat maupun melalui pemikir Muslim, tegasnya kelompok modernis, westernis, sekularis dan atau kelompok Muslim yang menurut kaum Fundamentalis merupakan perpanjangan mulut dan tangan Barat. Seperti contoh, gerakan kaum muda Mesir al-Ikhwan al-Muslimun (IM) pada tahun 1928. Didirikan oleh Hasan al-Banna, seorang Muballigh Mesir.

Gerakan IM adalah politik yang muncul sebagai usaha untuk merespon aneksasi barat, utama Inggris ketika diterbitkannya “Balfour Declaration” pada 02 November 1917. IM mempunyai ideologi total dan komprehensif terhadap barat. Program IM antara lain: Islam memancar dari dua sumber fundamental, yakni al-Qur’an dan al-Hadits. Program internasionalisasi organisai guna membebaskan seluruh wilayah Muslimin dari kekuasaan dan pengaruh asing. Kemudian membangun di wilayah Muslimin yang telah dibebaskan itu pemerintahan Islam, yang mempraktekkan prinsip-prinsip Islam.

Maka setelah kemunculan IM bermunculan gerakan-gerakan Fundamentalisme modern, seperti Kelompok Habib, dan Hizbut Tahrir, yang menginginkan khilafah tapi menolak menempuh jalur politik. Konsep ideologi mereka lebih condong soft dengan dasar pemikiran adalah “mengislamkan” masyarakat umum di mana bila tercapai maka khilafah akan terbentuk dengan sendirinya.  Kelompok kami tidak punya data cukup memadai tentang kelompok ini dan jalurnya dengan organisasi di Indonesia.

Maka dari segala aneka gerakan tersebut, pada abad 21 ini. Gerakan Fundamentalisme Islam bermetamorfosis, atau menjadi cikal-bakal menjadi gerakan radikalis yang tentunya lebih anarkis dan lebih menakutkan. Seperti kelompok terror yang hangat di telinga kita kempok Al-Qaeda, Boko Haram, atau ISIS di Iraq dan Suriah yang sampai saat ini masih ada. 

*)Disampaikan dalam Kajian Ilmiah PPM. Hasyim Asy'ari Yogyakarta

   
   



   
   
Share:

Copyright © LAJANG KEMBARA | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com