Rabu, 30 November 2016

Kuba pada Persimpangan Jalan

Google.com
Sang Comandante Fidel Alejandro Castro Ruz, telah meninggal dunia pada jumat (25/11) pukul 10:30 malam waktu setempat. Kuba tidak lagi memiliki El jeve maximo, seorang pemimpin, bos, revolusioner, dan komandan tertinggi yang menakhodai Kuba dari 02 Desember 1976 sampai 24 Februari 2008. Ia meninggal pada usia ke-90, karena sakit yang dideritanya selama satu dekade rakhir.
Pada 24 Februari 2008, sebelum ajal menjemputnya, Fidel menyerahkan tampuk kekuasaan kepada adik kandungnya Raul Castro (85), yang usianya juga telah lanjut. Selain meneruskan estafet kediktatoran kakaknya, Raul Castro adalah politikus gerontokrat yang sulit dihapuskan dari ingatan Los Cubanos (Masyarakat Kuba), karena ia juga terlibat dalam revolusi Kuba tahun 1959.

Sejak kemenangan Revolusi Kuba, 01 Januari 1959, Fidel Castro bisa dibilang kepala pemerintahan terlama di dunia yakni hampir lima dekade. Meskipun tidak selama Raja Bhumibol dan Ratu Elizabeth II,  Fidel menjadi pesohor terakhir, sebagai pengawal komunisme internasional sepanjang abat ke-20 dan awal abad ke-21. Pesohor lainnya, katakanlah Mao Zedong (China), Ho Chi Minh (Vietnam), dan sahabat karibnya Che Guevara (Kuba) telah lama mangkat mendahuluinya.

Ucapan simpati dan dukacita berdatangan dari berbagai belahan dunia. Dari Amerika Serikat, Obama dan mantan Presiden Jimmy Carter menyatakan duka citanya dan mendeskripsikan kenangan nostalgiknya ketika berkunjung ke Kuba. Ucapan dukacita juga datang dari Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto, Presiden Venezuela Nicolas Maduro, dan Presiden Indonesia Joko Widodo. Sedangkan presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dalam Twitter dengan kalimat singkat yang terkesan sarkas: “Fidel Castro is dead..!”.

Kematian Fidel menyisakan ambivalensi global, terutama bagi rakyat Kuba yang “mencintai” dan yang “membenci”. Bayangkan saja, ketika rakyat Kuba yang mencintai tengah berlinang air mata, kelompok  pembenci tengah bersorak gembira merayakan meninggalnya Fidel Castro yang telah menginjak hak asasi rakyat selama 50 tahun lebih. Kelompok pembenci ini adalah komunitas pelarian Kuba (Cuban Exile), yang eksodus ke beberapa negara bagian Amerika Serikat, Florida salah satunya. 

Dunia mengakui kalau sosok Fidel adalah simbol terpenting perlawanan kaum minoritas dan tertindas akibat penjajahan. Hingga menjelang akhir hayatnya, Fidel secara konsisten tetap menyuarakan perlawanan terhadap upaya kekuatan asing, terutama Amerika Serikat yang mengeruk kekayaan dan merenggut peradaban Kuba sebelum revolusi 1959. Karena menurut Fidel; “Revolusi bukanlah tempat tidur bertabur mawar merah. Revolusi adalah perjuangan mati-matian antara masa lalu dan masa depan” (penggalan pidatonya, pada Januari 1961). 

Selama hidupnya Fidel Castro, tercatat ada 638 kali upaya pembunuhan Fidel dilakukan. Namun, hingga terjadi 10 kali pergantian Presiden Amerika Serika dari Kennedy sampai Barrack Obama, Fidel tetap selamat dan posisinya tetap tak tergoyahkan.

Maka setelah kematian Fidel Castro banyak spekulasi berhamburan tentang masa depan Kuba. Akankah halaman sejarah Kuba berubah?. Benarkah revolusi akan tinggal nama?. Dan seperti apa masa depan hubungan Kuba-Amerika Serikat yang dulu sempat harmonis ketika masa pemerintahan Fulgencio Batista.

Era Keterbukaan

Pada tanggal 03 Desember 1961, Amerika Serikat mengembargo Kuba. Tapi Fidel tak gentar, dan ketika Fidel melakukan kunjungan luar negeri pertamanya sebagai Presiden Kuba ke Amereka Serikat. Ia bersikap tegas dan berpaling ke Uni Soviet yang pada saat itu juga merupakan salah satu spektrum dunia.

Tapi, malapetaka datang ketika di tahun 1991 Uni Soviet runtuh dan menyebabkan krisis multidimensional. Laiknya Domino Hill yang roboh, imbasnya pun menimpa Kuba. Puncaknya, ketika Presiden Gorbachev (Rusia) menghentikan subsidi dari Moskwa ke Havana. Kasus itu membuat Kuba makin terpuruk dan mengalami kesulitan pasokan makanan. Fidel hanya mencanangkan dimulainya “periode spesial” dimana dia meminta rakyatnya untuk bersabar dan lebih mengencangkan ikat pinggang.  Tapi Rakyat merespon negatif, maka meletuslah demonstrasi dimana-mana, yang menuntut Fidel turun gunung, lengser dari presiden.

Fidel memang penuh teka-teki, ia sempat menyatakan bahwa tidak perlu menjalin hubungan perdagangan dengan Amerika Serikat. Namun pada tahun 1993, ketika Kuba memang benar-benar bergejolak, keadaan memaksa Fidel melegalkan Rakyat Kuba memegang dollar AS, yang dibelanjakan para wisatawan atau kiriman dari para keluarga pelarian Kuba yang di Amerika Serikat.

Maka setelah kematian Fidel, dan Kuba di bawah kendali Raul, banyak restorasi kebijakan untuk mendongkrak krisis internal Kuba. Salah satunya usaha normalisasi hubungan AS-Kuba yang sepakat untuk bersama-sama menggalang hubungan diplomatik, membuka jalan normalisasi hubungan bilateral di akhir bulan Desember 2014.

Hal ini ditandai dengan membebaskan tiga personil intelijen Kuba yang ditangkap, dan Kuba membebaskan mata-mata berkewarganegaraan Amerika Serikat yang telah ditahan selama 20 tahun. Kemudian dilanjutkan pembukaan kedutaan besar di Havana dan Washinton pada tanggal 20 Juli 2015. 

Role Dilemma

Setelah kematian Fidel Castro, banyak pengamat memprediksi masa depan Kuba menjadi misteri dan semi abu-abu. Kuba sekarang mengalami Vacum of Power,hilangnya seorang pemersatu yang disegani. Atas nama rakyat yang bingung, maka tak ayal mereka tengah tiba di persimpangan jalan, dan menuntut mereka untuk lekas memilih jalan kanan atau jalan kiri.

Mereka merasakan Role Dilemma (dilema untuk berperan dan dilema yang ganda). Dalam artian, rakyat dilema untuk mengikuti nakhoda Raul Castro yang cenderung ke-kanan-kananan. Atau mempertahankan identitasnya sebagai negara sosialis satu-satunya di Westren Hemisphere (belahan bumi barat).

Menurut Richard L Harris (1992), Rakyat Kuba sampai kapanpun akan terngiang-ngiang dengan penegasan Fidel bahawa komitmen Negara Kuba tidak akan mengadopsi jenis reformasi ekonomi-politik Amerika, bekas Uni Soviet, Eropa, bahkan dari negara dan kawasan manapun.

Memang komitmen Fidel tidak tanggung-tanggung. Ia berkomitmen untuk menyejahterakan rakyat, sehingga mencanangkan lahirnya masyarakat Kuba (Los Cubanos) yang baru dan beradap. Dari peningkatan kualitas pendidikan, jaminan kesehatan, dan pengadaan perumahan  menjadi prioritas bagi masyarakat. Meski Kuba pernah krisis akut usai hancurnya Uni Soviet, Fidel mampu mengangkat likuiditas keuangan, meningkatkan insentif buruh, dan menangani kelangkaan makanan, barang-barang konsumen, dan jasa (Nur Iman Subono, 2006).   

Inilah yang membuat Rakyat Kuba harus berfikir dua kali, tentang berbagai perombakan tatanan Kuba yang kadung dilakukan Raul Castro. Rakyat masih meyakini, bahwa kesejahteraan di era Fidel tidak akan didapatkan dari pemimpin demokratis manapun. Apalagi Raul telah mengumumkan pengunduran dirinya di tahun 2018. Lebih jauh lagi terpilihnya Donald Trum tentunya akan membuka halaman baru Hubungan Amerika Serika-Kuba yang lebih eksentrik.




Share:

Copyright © LAJANG KEMBARA | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com