Kamis, 16 Maret 2017

Kiai Mushaffa di Mata Saya

Sumber Gambar: Dok. Pribadi
Kiai Mushaffa Sa’id yang ahli ilmu, kiai yang sederhana, kiai yang ahli tasawuf, kiai yang suka membaca, kiai yang istiqomah, dan kiai yang kharismatik adalah kompleksitas kepribadian beliau. Inilah barangkali jamak diketahui masyarakat, santri-santrinya, bahkan siapa pun yang pernah berlintasan dengan beliau.

Ketika beliau masih hidup, terutama amalnya dalam mendirikan Pondok Pesantren Al-Ihsan III/A (Darul Ihsan sekarang) ternyata bukan perkara mudah. Beliau merintis pesantren tersebut dari bawah, mendirikan dari 0 ketika di kampungnya belum ada pesantren dan masyarakat yang kurang renponsif dengan dunia pendidikan. Pada titik nadir, ide tentang mendirikan pesantren ternyata banyak menuai kritikan dari sana-sini, bahkan bertendensi fisik. Alhamdulillah duri-duri dan bebatuan tajam itu bisa dilaluinya dengan berdarah-darah dan penuh kesabaran.

Akhirnya, dengan melanjutkan cita-cita kakek beliau (Kiai Asrawi), Pondok Pesantren Al-Ihsan III/A berhasil didirikan di Kampung Bakburu, Desa Pakamban Daya, Pragaan Sumenep Madura pada tahun 1960. Berbekal ilmu yang didapat dari perlintasannya di berbagai pesantren dalam dan luar Madura itu, Kiai Mushaffa Sa’id bersama keluarga membina/melatih santri-santrinya dengan penuh keikhlasan, ketekunan, dan kesabaran

Berdasarkan Buku Autobiografi Sketsa Perjalanan Hidup sang Kiai (2016),  Pondok Pesantren Al Ihsan III/A merupakan sekolah tertua dari sekolah-sekolah yang ada di sekitarnya. Pada waktu awal berdirinya, kegiatan belajar mengajar masih dibagi dua waktu berbeda, kelas 1,2 dan 3 masuk pagi hari, sedangkan kelas 4, 5 dan 6 masuk sore hari. Keterbatasan guru dan fasilitas KBM itu yang menyebabkan Kiai Mushaffa memutar ide bagaimana santrinya dapat belajar. Dan sejak awal berdirinya madrasah K. Mushaffa telah memberikan ajian kitab Salafi pada santri dan masyarakat. Beliau juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan juga ke-NU-an.

Nah, lokasi pesantren memang pass ada di depan rumah saya. Bukan karena jarak yang menggetarkan saya dan atau dorongan orang tua, tapi mau tidak mau saya harus mondok di pesantren asuhan Kiai Mushaffa berkat keterpesonaan saya pada beliau. Saya hanya 3 tahun nyantri (mukim) di pesantren, dan 14 tahun saya habiskan menunutut ilmu di pesantren Al-Ihsan dari PAUD hingga Madrasah Aliyah. Sungguh sebentar, sungguh sekejab, karena selain saya bandel, seolah ilmu yang saya dapat begitu minim sekali.

Saya masih ingat, ketika beliau naik-turun tangga untuk membimbing kami belajar kitab klasik (kuning), padahal kesehatan beliau sedang tidak stabil. Tapi pengabdiannya membuat kami terharu dan selalu direspon dengan kelengkapan kami (santri) satu kelas waktu itu. Kesederhanaan beliau, dengan kealiman ilmu beliau diekspresikan dengan tidak sedikit pun menegur santrinya walaupun tengah tidur pulas di bangkunya masing-masing. Maafkan kami kiai..!!

Hingga menginjak kelas akhir, kesehatan beliau semakin memburuk. Beliau tidak lagi menghadiri kelas-kelas kami, kami harus belajar di beranda rumah (dhalem) beliau, tak ada yang berubah, tak ada yang berkurang, beliau tetap menampilkan raut wajah kecerahan walaupun tengah sakit. Hingga pada suatu kisah, di tengah-tengah perjumpaan itu beliau berdawuh: “Guleh, pakkun aduaki santre-santre, sanajjen ampon keloar dheri pondhuk,”  saya tetap mendoakan santri-santri saya meskipun sudah lulus dari pesantren ini. Sungguh luar biasa rasa empati dan cinta beliau terhadap santri-santrinya.

Setelah lebih dari satu tahun beliau struk dan satu minggu mengalami koma, akhirnya isak tangis pecah mengantarkan arwah almarhum K. Mushaffa Sa’id pada usia ke-78 tahun. Beliau berpulang ke surga di kediamannya, Pondok Pesantren Darul Ihsan Pakamban Daya Pragaan Sumenep, pukul  01-00 Wib Hari Jum’at, tanggal 19 September 2014. Janazah almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga, disebelah utara Madrasah Ibtidaiyah, bersebelahan dengan istri beliau yang juga baru Wafat pada malam Ahad tanggal 14 November 2015.

Satu pesan dari beliau untuk estafet kepengasuhan Pondok Pesantren Darul Ihsan ke depan:“pesantren reah benni tang endik tape din masyarakat bennyak, maka dilaok beginnah be’en kaangkui ajegeh pesantren reah”. Wasiat beliau mengenai pondok pesantren ini di dapat dari Fathor Rahman (tetangga, sekaligus wali santri dari anaknya yang dimondokkan di pesantren Kiai Mushaffa Sa’id).

Share:

Copyright © LAJANG KEMBARA | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com