Senin, 27 Maret 2017

Hari Puisi, Refleksi, dan Sapardi

Sumber Gambar: wendibarian.wordpress.com
Sifat dan karakter asli puisi ialah arogan. Ia tebang pilih kepada siapa hati dan raganya akan diberikan. Ia pun berada di ruang soliter nan sunyi, agar tak sembarang orang menemukan dan menaklukkannya. Maka siapa pun yang bermental kelinci (pemalu dan suka sembunyi), ataupun bermental dubuk (pemakan bangkai yang penakut) lekaslah urungkan niatmu untuk mendekati puisi.

Puisi punya daya lenting seluas dan sedalam samudra, yang bisa mencerahkan bahkan menenggelamkan. Sekian orang menuliskannya tapi miliaran orang mencampakkannya. Bukan karena puisinya, bukan karena ia tak menjanjikan apa-apa, tapi puisi memilah dan memilih siapa yang sanggup bersetia dengannya. Maka fenomena perceraian puisi dengan manusia itu sendiri begitu kentara di zaman borderless society ini. Padahal keemasan puisi era Kekhalifahan Abbasiyah dan Kerajaan Romawi dahulu begitu diagungkan, yang hampir semua lapisan masyarakat menggandrungi puisi. 

Maka melihat keretakan itu, aparatus UNESCO (the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) mencoba mengembalikan romantisme puisi dengan manusia. Pada tahun 1999, dalam Sidang Umum di Paris, UNESCO menetapkan tanggal 21 Maret sebagai hari puisi sedunia. Sebuah nomenklatur akhir abad ke-20 yang tidak lain untuk membumikan puisi, memuisikan manusia dan jagat raya ini. Karena puisi adalah jendela keragaman dan nafas kemanusian, sanggah Irina Bokova (UNESCO Director-General). 

Momentum 21 Maret dirasa penting, karena pada tanggal itu hari pertama musim semi di belahan utara bumi. Dengan bekal keseriusan dan visi nir-utopis, aparatus UNESCO mengaku telah melibatkan sekira 50 organisasi nasional, regional, dan internasional untuk mengurusi puisi (dalam survie) dan 15 penyair/perwakilan dari pusat-pusat perpusian di pelbagai wilayah geokultural (dalam rapat di markas UNESCO, 29 Maret 1999).

Hari puisi dunia (world poetry day) sejatinya bukan peristiwa sambil lalu, tetapi ketaatan dan koeksistensi kehidupan manusia dan puisi yang tidak bisa disejajarkan dengan hari libur nasional atau internasional. Tujuan hari puisi adalah untuk mempromosikan pekerja intelektual yang suka membaca, menulis, menerbitkan buku dan mengajarkan puisi secara mondial. Apalagi ditambah dengan jargon utama hari puisi: “puisi memerlukan pengakuan segar dan dorongan untuk gerakan puisi nasional, regional dan internasional.”

Hari puisi sebagai penyokong keragaman linguistik melalui ekspresi puitis, sejatinya menawarkan kesempatan kepada bahasa-bahasa yang terancam punah supaya didengarkan dalam komunitas masing-masing. Di hari itu—pada belahan dunia lain—semarak menggalakkan tradisi pembacaan puisi lisan, menyebarkan pengajaran puisi, memulihkan dialog antara puisi dan bidang-bidang seni lain. Ada pula menyokong penerbit-penerbit kecil, dan menciptakan citra puisi yang menarik di media agar seni puisi tidak lagi dianggap kadaluwarsa (TIRTO.id, 21 Maret 2017).

London merespon hari puisi dengan perayaan unik yang disebut “Puisi Kafe”. Di dinding kafe terpasang indah puisi-puisi penyair legendaris dari berbagai lini masa, ada peluncuran buku, kopi gratis dengan tiket masuk selembar puisi. Kabar baik lainnya, perusahaan kopi Austria “Julius Meinl” mengumumkan lebih dari 1.000 outlet di seluruh dunia akan menawarkan kopi gratis untuk pecinta kopi dengan membarter sebuah puisi. Karena di balik perbedaan dan kepercayaan masih tumbuh menyala kesamaan untuk berbagi: yakni dengan hati. Mereka memeluk emosi, melambat dan diganti mata uang normal dengan puisi.

Senada dengan itu, Indonesia tak mau ketinggalan, pada tanggal 26 Juli ditetapkanlah sebagai hari puisi nasional. Diinesiasi oleh Rida K Liamsi dan dideklarasikan di Pekanbaru Riau, tanggal 22 November 2012. Hari puisi nasional Indonesia sebagai apresiasi dan pengahargaan atas dedikasi kepenyairan Chairil Anwar yang lahir pada 26 Juli 1922. 

Baru-baru ini kita juga disuguhkan oleh sebuah pagelaran sastra yang bertajuk “Malam Perayaan 77 Tahun Sapardi” di Bentara Budaya Jakarta (22/03/17). Pagelaran ini terasa spesial, selain karena memperingati hari puisi dan peluncuran 7 buku Sapardi, tanggal 20 Maret menjadi hari kelahiran penyair Ratu Rono, Solo itu. Di usianya yang ke 77 tahun, Sapardi terus saja meninjau dan mempertimbangkan jalan kepenyairan yang telah ia tempuh sepanjang hidupnya. Ia terus gelisah, terus merenung, dan melahirkan karya.

Sumber Gambar: myfreakysunday.wordpress.com

Goenawan Mohamad dalam sambutannya mengatakan: “sejarah menceritakan apa yang jatuh dan bangun, yang mulia kemudian menjadi busuk. Tapi puisi selalu kasmaran kepada dunia, terkesima pada benda yang tak berarti maupun tragedi yang paling mengerikan dan menyedihkan. Puisi semacam berita kebangkitan kembali. Puisi menolak untuk sekadar berulang. Demikian juga hari ini, Sapardi Djoko Damono tidak berulang tahun. Dia dilahirkan kembali.”

Sapardi seperti menolak zaman dan waktu, ia bahkan menantang generasi muda untuk adu tangkas dan produktif dalam berkarya. Ia berjanji akan menulis, terus-menerus menulis sampai akhir hayatnya. Joko Pinurbo menyebutnya sebagai perawat karya yang tangguh, Sapardi punya kedispilinan yang tinggi terhadap dirinya sendiri. 

Maka di malam peluncuran buku itu, puluhan pasang mata berkaca-kaca menyaksikan. Dalam diri Sapardi telah bersemayam nyala puisi yang tetap terjaga dari angin-angin keganasan. Ia telah menaklukkan puisi, dan puisi sadar bahwa pilihannya sangat tepat untuk hidup rukun dalam perbedaan.










Share:

Copyright © LAJANG KEMBARA | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com