Sabtu, 25 Februari 2017

Kantin Bonbin, dan Eksistensi Komunitas Sastra Yogyakarta

Pewartayogya.com
Pada hari Sabtu tanggal (18/02) kemarin, kita disuguhkan dengan sebuah peristiwa nostalgik para sastrawan Yogyakarta. Adalah agenda kangen-kangenan sastrawan lawas, yang bertajuk “Sastra Lawas: Bonbin Reborn 2017” di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM. Ada nama keliber Jasmine, Sastro Moeni, Yennu Ariendra, dan Destraya yang tiap karyanya selalu memberi kebahagian itu datang meramaikan acara.

Malam itu ada aksi pembacaan puisi teaterikal Gunawan Maryanto, dentingan piano Frau, beat hangat DJ Innerlight, musik dangdut unit goyang, pop asyik Risky Summerbee and Honeythief dipandu Gepeng Kesana-kesini adalah mata rantai acara untuk menuntas rindu menahun tak bertemu.

Uniknya, para seniman jagongan Sastra UGM itu dipertemukan dan dibesarkan lewat kantin Bonbin, kantin Mahasiswa, dosen, dan karyawan (Madokar) UGM yang sangat melegenda itu. Di kantin itu, dahulu mereka ditempa persahabatan dengan perkelahian ide dan diskusi-diskusi yang memintal persoalan rumah tangga, asmara, hingga Negara. Sejarah itu yang membuat panitia memilih “Sastra Lawas: Bonbin Reborn 2017” sebagai tajuk reuni (Koran Merapi, 20/02).

Kantin Bonbin, didirikan oleh Almarhum Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, S.H pada tahun 1987. Selain penunjang fasilitas kampus, usaha rektor ke-8 UGM itu untuk merelokasi pedagang yang berjualan dikawasan lain di seputaran UGM. Maka dibangunlah kantin Bonbin yang posisinya di area Fakultas Ilmu Bahasa. Satu persatu civitas akademika mulai terpaut hatinya pada suasana kebersamaan yang tercipta pada kantin tersebut.

Ya, kantin Bonbin adalah kantinnya hewan-hewan yang berpikir, tempat berkumpulnya mahasiswa dari berbagai fakultas seperti FIB, FEB, F.Psikologi F. Filsafat Fisipol dan F.Hukum. Bonbin juga sering disebut kantin rakyat. Seperti yang kita ketahui bahwasanya Bonbin selalu memarodikan harga jajanan yang murah-murah alias merakyat, jajanan yang beragam, dan penjualnya juga ramah, santai, dan boleh ngutang pula.

Sejak berdirinya, kantin Bonbin baru sekali mengalami renovasi pada sekitar tahun 2008-an. Sebelum tahun itu, kantin Bonbin masih seperti bentuk aslinya berupa shelter dengan bangunan terbuka dari beton dan atap genting press. Di tempat itu menampung lebih kurang ada sekitar 10-an pedagang makanan dan minuman.

Pada sekitar tahun 2008-an kantin Bonbin direnovasi dengan bantuan dari sebuah bank swasta. Bangunan tempat pedagang berjualan ditata lebih rapi dan dilengkapi dengan dua buah toilet. Kantin Bonbin sampai sekarang jauh lebih bersih dibandingkan sebelum tahun 2000-an.

Peristiwa kemanunggalan sastra dan Bonbin juga tidak bisa dipisahkan. Sebuah kantin mungil yang dulu berada di kawasan kampus Sastra itu adalah hubungan yang tidak dapat dipisahkan dengan lakon para seniman dan sastrwan. Bonbin adalah tempat yang mencetuskan ide-ide unik, cerdes, lucu, dan sarat kenangan indah untuk semua yang pernah bersentuhan dengannya. Bonbin adalah ruang untuk berbagi, membicarakan gerak-gerik kesusastraan, diskusi sastra, bahkan bedah buku sastra. Sehingga dari peristiwa perjumpaan itu melahirkan ritme eksotik dalam kehidupan dan dalam usaha merawat kesusastraan.

Dunia kesusastraan memang bukan dunia teater, ia lebih personal dan terasing. Seorang penyair atau cerpenis dalam berkarya bisa dimafhum untuk tidak bergantung pada kelompok atau komunitas. Seorang penyair bisa saja menulis puisi sendiri di kamar, bisa membaca tanpa berdiskusi sebelum menulis, lalu mengirimkan tulisannya ke Koran dan Majalah sendiri tanpa berkonsultasi sebelumnya. Itu sah-sah saja.

Tapi yang musti dipahami adalah dunia kepenulisan tidaklah sesederhana itu, kepenyairan bukan sekadar curahan hati saja. Lebih jauh lagi dunia kepenulisan juga tidak bisa diceraikan dari lingkungan kehidupan yang maha berkait-kelindan ini.

Maka yang dikatakan Acep Zam zam Noor begitu paralel dengan itu: “bergugurnya penyair-penyair muda berbakat tak sedikit yang disebabkan oleh tidak adanya komunikasi antarsesama penyair, atau tidak adanya komunitas yang menjadi kanal bagi kreativitas mereka”. Itu pun kita tidak bisa menafikan kalau Persada Studi Klub di bawah asuhan Umbu Landu Paringgi banyak melahirkan sastrawan-sastrawan berbakat. Disinilah pentingnya sebuah komunitas bagi para seniman, sastrawan, atau siapa pun untuk membangun sebuah iklim belajar, suasana dan visi bersama.

Di Yogyakarta selain pegiat sastra Bonbin, ratusan komunitas sastra baik yang bermukim di universitas atau komunitas sastra secara mandiri di pinggiran sana. Kita simak perjalanan komunitas Rumah Lebah, Rumah Poetika, Kajian Jum’at Sore, Bulaksumur, Tanda Baca, Jejak Imaji, Komunitas Rudal, serta Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY). Komunitas-komunitas ini terbukti melahirkan banyak penulis berbakat. AKY misalkan antara lain melahirkan Eka Kurniawan dan Puthut EA, sementara Rumah Lebah terbukti menelurkan Raudala Tanjung Banua dan Sunlie Thomas Alexander.

Dalam soal tema demikian pula, Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta berfokus pada dokumentasi sastra pesantren di bawah asuhan Kiai Zainal Arifin Thoha (alm). Sanggar kemanusian Sarkem mendokumentasikan peristiwa pertunjukan sastra. Lidah Ibu di bidang bahasa, Balai Bahasa khusus sastra lisan dan seni tradisi. Sementara untuk film dan kesusastraan bisa dipercayakan pada rumah sinema atau literasi.

Maka ketika Kantin Bonbin mau direnovasi, banyak civitas akademika dan seniman protes. Karena tempat itu tidak hanya sebagai tempat makan, tapi laiknya sebagai rumah atau kandang kreativitas. Tidak bisa dibendung ketika di semesta maya dan di lokasi Bonbin sendiri banyak poster-poster protes. Ada nada protes begini, “Bila Bonbin digusur, sediakan ruang laktasi untuk menyediakan ASI supaya generasi tua UGM semakin cerdas”, atau nada frustasi yang sampai ingin mengorbankan kuliahnya, “esok ra ngopi, aku raiso mikir, ojo salahke aku nek aku luluse suwi”.

Share:

Copyright © LAJANG KEMBARA | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com