Rabu, 13 Juli 2016

Daya Magis Jokowi



Judul Buku   : The Miracle of Jokowi
Penulis          : DR. Sidik Jatmika, MSi
Cetakan         : 01/2014
Penerbit        : MAHARSA Publishing
Tebal              : 238 Halaman
ISBN               : 978-602-70861-1-1
Peresensi       : Khairul Mufid Jr*


            “Perubahan” dan “Suasana Baru”. Itulah pesan utama yang hendak disampaikan mayoritas pemilih Indonesia pada Pilpres 2014. Setelah melalui drama politik yang tegang dari detik pertama hingga detik terakhir, berdasar pengumuman resmi KPU 22 Juli 2014, akhirnya pasangan Jokowi-JK dinyatakan unggul 52,5% : 47,5% dari pesaingnya Prabowo-Hatta.


            Dimana Rekrutmen pemimpin politik adalah salah satu fungsi utama sebuah sistem politik, termasuk partai politik. Karena itu, pelaksanaan Pemilihan             umum Legislatif (pileg) dan Pemilihan Presiden (pilpres) Indonesia tahun 2014 juga merupakan tahapan untuk merekrut para elit politik, termasuk Presiden Indonesia periode 2014-2019. Fenomena kemunculan berbagai nama menjelang Pemilu Legislatif 2014, menjadi batu sandungan antar partai politik sekaligus menjadi tolok ukur kualitas wakil partainya yang dicalonkan menjadi Capres dan Cawapres.

            Ibarat sebuah kejuaraan, maka ajang Pemilihan Legislatif 2014 dapat diumpamakan merupakan babak penyisihan sehingga muncul sekitar 25 nama yang mewakili 12 partai politik tanah air kita. Ada yang mengutus satu-dua orang wakilnya, bahkan partai Demokrat mewakilkan 11 orang untuk pertempuran politik dan pesta demokrasi bangsa Indonesia secara jamak.

            Hingga berdasarkan Survei Popularitas (Personality Politics) Capres, munculah sosok Joko Widodo (Jokowi) sebagai manusia unik, berkharisma, sederhana, merakyat, dan mampu menggugah perhatian publik dengan mawas diri dan rendah hati. Gubernur DKI Jakarta,

            Melejitnya popularitas Joko Widodo. Bermula dari dilantiknya sebagai Wali Kota Solo, kemudian hijrahnya ke Jakarta sebagai Gubernur Ibu Kota Negara itu. Sosok dengan kegiatan blusukan-nya, mampu merebut perhatian warga terutama dari kalangan miskin yang tinggal di kawasan kumuh, Jokowi digambarkan sebagai sosok yang merakyat dan tidak elitis.

            Bisnis Jokowi pun diyakini publik dibangun dari bawah sehingga tahu rasa hidup susah. Sebastian mengatakan “kinerja Jokowi dalam satu tahun terakhir memimpin Jakarta juga terlihat lebih sukses dibandingkan kinerja lima tahun pendahulunya, Fauzi Bowo”. Sontak saja fenomena ini terus dibuahbibirkan masyarakat. Padahal munculnya Jokowi ternyata tidak menjadi calon Presiden yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, sekalipun tetap maju dalam Pemilu Presiden.

            Karena membahas Joko Widodo bukan hanya membahas sebuah nama, dia sudah melampaui nama, dan kalau didefinisikan dia seorang pribadi yang kemudian besar karena figuritas kepribadian yang khas, dia humble (sederhana), tulus dan mempunyai visi untuk rakyat,  dan mengapa Joko Widodo menjadi besar karena ada arus anti elitisme di bawah, masyarakat sudah jenuh terhadap elit politik sehingga begitu Jokowi muncul dari bawah adalah representasi dari wajah rakyat Indonesia.  
           
            Meskipun Jokowi-JK yang selama masa kampanye dibombardir berbagai isu negatif (status agama dan etnis, Capres boneka, hingga antek PKI), tapi akhirnya dia bisa memengangkan Pilpres 2014? Apa saja yang menjadi kekuatan dan strategi yang dimainkan Jokowi-JK? Bagaimana prospek peta politik dalam negeri dan luar negeri Indonesia pasca Pilpres 2014? Apa saja pelajaran dari hiruk pikuk arena Pilpres 2014?

            Maka buku ini penting dibaca untuk menjawab sederet pertanyaan di atas. Apalagi oleh para pengamat pilitik, Praktisi, Mahasiswa, Dosen Politik, dan masyarakat umum. Kerena apa yang ungkapkan DR. Sidik Jatmika, MSi (penulis buku), buku ini disusun dengan cara memadukan metode pemaparan secara tahapan waktu (deskripsi-kronologis) arena Pilpres 2014 dengan berbagai analisa sosiologi dan komunikasi politik. Kerena proses Pilpres ini secara kebetulan bersamaan dengan berlangsungnya Piala Dunia Sepak Bola di Brazil. Maka dalam beberapa penjelasan penulis sengaja mengambil beberapa istilah dalam cabang Sepak Bola sebagai upaya memudahkan pengibaratan berbagai peristiwa yang terjadi di dunia politik praktis.

            Dalam buku setebal  238 ini, ditemukan penyajian data sangat lengkap. Tentang kemunculan bakal calon presiden, dinamika pergerakan pemilihan presiden, kampanye hitam, pergerakan politik di masa tenang, hasil akhir pemilihan Presiden 09 Juli 2014, faktor kemengangan Jokowi, hingga cipratan pelajaran/pengalaman yang dapat kita petik dari sandiwara politik Pilpres 2014. Semua dikupas baik oleh penulis dengan paduan gambar-gambar Capres dan Cawapres yang nyentrik. Akhirnya selamat membaca!.

             
Kutub, 2014

Share:

0 komentar:

Copyright © LAJANG KEMBARA | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com