Rabu, 20 Juli 2016

Lebih Baik Menggelandang



Embun malam pergantian musim menyisakan kesejukan dan air mata, angin pun mengerudungi sebuah bangsal kayu yang kusebut itu rumah, walau kebanyakan orang menyebutnya gudang, bedeng,  dan sebuah kandang tapi buatku sebuah istana kerajaan, di bawah atap seng yang berlubang dengan mudahnya kami berempat melihat kelip bintang dan pancaran bulan, di selimuti anyam bambu yang menganga begitu mudahnya kami dipeluk angin dan dirembesi hujan, diantara puluhan rumah yang berdiri kokoh rumah kami yang paling gampang roboh, kami keluarga paling miskin dan paling sering ketiban bencana. apalagi bencana kelaparan dan kebutuhan hidup lainnya. 

            Di antara bapak dan anak-anakku, akulah yang merangkul semua pekerjaan rumah sekaligus mencari nafkah. Bagaimanapun aku tak bisa menyangkal, ini adalah seleksi alam yang mau tidak mau musti aku kerjakan, suamiku sudah tiga tahun belakangan ini sakit-sakitan, dan sekian lamanya tidak bisa bekerja.   
***
                                                 

Pada suatu pagi yang berkabut dengan bias rintikan hujan lamban, Suryati tergopoh mengantar Dio anaknya ke sekolah yang tidak begitu jauh dari rumah, mereka menumpangi sebuah ontel butut yang tak bigitu tangguh untuk jalanan berbatu. Di tengah jalan bergelombang dan naik turun, Suryati memberi peringatan pada Dio,  Nak!, Pegang yang erat yaa, Kita akan melewati jalan curam dan berbatu, iya Buu! jawab Dio datar, Suryati dengan gemetar menenangkan binal ontelnya akibat cegatan bebatuan, tiba-tiba kawat remnya putus, dan menabrak pembatas jalan kemudian mereka terjungkal ke samping gardu, ontelnya terbelah dua, Suryati luka-luka di tangan dan kaki, sedang Dio terpental jauh ke tubuh aspal dan bebatuan tajam. Suryati terdiam cemas, dan seketika itu meneteskan air mata, ia tak sanggup lagi menerima kenyataan, anak bungsunya sudah tak berdaya terkapar  dengan lumuran darah.
           
“Dio.., Dio.., Dio!! Bangun Nak,! ibu di sini, ayo bangun anakku”, Panggilnya kentara, menangis, sambil  mendorongi tubuh layu Dio, tak ada gerak dan jawaban darinya, hanya gelembung darah yang terus menyumber dari sebagian tubuh Dio,  Suryati semakin kencang mendorongi tubuh dan semakin keras berteriak seraya menambah tanya pada orang-orang yang mulai mengeremuni mereka berdua.  “Nyawa Dio sudah tak tertolong lagi biarkan dia tenang di alam sana, anakmu tidak akan bisa kembali lagi, ikhlaskan saja” sahut seorang lelaki yang sejenak mencairkan suasana mencekam itu. “Tidak..! Tidak..!” bentak Suryati tetap tak bisa tenang.

            Bagai badai yang tiba-tiba menggulung, dan sapuan ombak mengibas, atau luapan banjir mengarak kemudian berdesakan menghimpit Suryati. Seminggu dari kematian anak bungsunya itu, suryati lebih pendiam dari biasanya, ia masih tidak bisa menerima kenyataan atas musibah yang menimpa keluarganya.
***

Pagi yang masih buta, jarum jam menunjuk angka 06:00. Suryati bersiap berangkat kerja, tak ada ritual khusus sebelumnya, cukup hanya dengan bedak pemutih wajah dan tawas penghilang bau badan, ia sudah merasa cukup modis untuk pergi ke tempat kerja. Walau musibah keluarganya tak bisa ia hapus dalam ingatan. Ia tak ingin berlarut dalam kesedihan dan ia tak punya banyak pilihan lagi untuk memoles hidupnya ke arah mapan, ia mencoba bersabar dalam penderitaan.

Sesampainya di tempat kerja, tiba-tiba handphone bergetar di sak belakang celananya, isyarat seorang menelponnya;
             “Assalamu’alaikum? Tanya penelpon mengawali pembicaraan”
“Waalaikum salam! Jawab Suryati Ada yang bisa saya bantu pak? Ujar Suryati, yang ternyata lawan bicarnya seorang lelaki”.
            “Begini Suryati, bapak ingin menyampaikan berita duka, tentang suamimu.”
            “Ada apa dengan suamiku pak? Jawabnya selidik.
“Anuu.. anu.. suamimu telah  meningggal dunia Sur!, ia telah tidak bernyawa lagi ketika Anton  anakmu melihat bapaknya terlentang pucat di atas ranjang kamarnya, imbuh penelpon dengan nada haru dan gemetar itu.
Suryati terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa, ia tertunduk layu dan tak mampu menjawab salam dari penelpon, derita baru yang tak kalah buas, ganas, dan bengis.  Ia semakin melemah dan akhirnya pingsan seketika.

            Betapa terkejut kala ia terbangun dan rasakan tekanan batin perih menusuk jiwa, suaminya sudah dimakamkan, dan ditempatkan di samping kuburan Dio. Kini Suryati hanya memiliki Anton anak kandung sulungnya, ia adalah harta satu-satunya yang Suryati punyai.
***

            Suryati akhir-akhir ini sudah mengurangi pekerjaan beratnya, ia sering tidur, melamun, dan tak ada sedikitpun senyum tergores dipipinya lagi. Kematian suami dan anaknya sudah menjadi cambuk mematikan. Kini, Anton yang mengambil alih semuanya, ia memasak, mencuci, hingga mengganti pekerjaan ibunya sebagai kuli panggul, Anton telah putus kuliah setelah musibah kematian keluarganya. Tetapi ia tegar dan berjuang untuk kehidupannya dan Suryati.

            Anton yang kini dikenal sebagai tukang kuli muda, memang tidak pernah absen masuk kerja, sehingga teman dan mandornya sering menyanjung. Ia diberi kepercayaan lebih dari karyawan lain, sehingga pada suatu waktu, ketika ia bermain ke rumah sang mandor, tiba-tiba ia bertemu seorang gadis cantik, tinggi, dan langsing, akrablah mereka saling mengenal satu sama lain. Pak mandor juga memberi lampu hijau terhadap pertemanan Anton dan putrinya itu. Gadis yang di ketahui putri mandornya diam-diam ditaksir Anton, walau keterbatasan ekonomi yang melatari, Anton memberanikan diri untuk melamar sang gadis, tanpa sepengatahuan Suryati. Anton takut tidak mendapat restu dan memberatkan hati ibunya, apalagi si calon istri adalah seorang putri saudagar kaya raya. Maka dengan tanpa restu ibunya, pernikahan tetap digelar.
***
            Semenjak resmi menjadi suami gadis itu, Anton sudah jarang pulang ke rumah untuk menjenguk Suryati, padahal sang Ibu semakin kerempeng, kering bangsai, bahkan mulai hilang ingatan, Jika sebelumnya Anton seminggu sekali pulang, ternyata kini berminggu-minggu tidak pulang. Ia telah melupakan sang Ibu yang tinggal menunggu kematiannya.

            Suryati saat ini memang benar-benar tak punya apa-apa, ia sudah gila dansukanya keluyuran, menggelandang di jalanan. Suryati tak kuat lagi dengan gejolak kehidupan yang tidak memberinya ruang, hidup malah mengepung dan memenjarakannya, ia merasa terasing untuk memanjangkan umurnya. Lebih baik menggelandang dari pada hidup terbengkalai.

Share:

0 komentar:

Copyright © LAJANG KEMBARA | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com