Kamis, 14 Juli 2016

“Trio Macan Indonesia” di Tengah Perjuangan Kemerdekaan



 Judul Buku  : Soekarno-Hatta-Syahrir (Kisah dan Memoar Tiga Macan Asia di Tengah Hiruk Pikuk Perjuangan)


  Penulis          : M. Romandhon MK
Cetakan         : I, Mei 2015
Penerbit        : Araska
ISBN               : 978-602-300-143-9
Tebal              : 248 Halmn: 14x20,5 cm.
Peresensi       : Khairul Mufid Jr*

“Berdaulat dalam politik
Berdikari dalam ekonomi
Dan berkepribadian dalam kebudayaan”
                       
Ir. Soekarno.
           
            Konsep Tri Sakti di atas disampaikan Soekarno pada pidatonya menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1964. Konsep ini menjadi bahan ajar dan rujukan pasca kemerdekaan Indonesia 1945, karena cita-cita Soekarno; ingin Indonesia menjadi bangsa yang besar baik secara politik, ekonomi, maupun kebudayaan.


            Konsep Tri Sakti adalah satu warisan dari ribuan lainnya yang diberikan Soekarno kepada bangsa ini, Tri Sakti menjadi alarm kebangkitan Indonesia di masa depan, karena selama masa kolonialisme-imperialisme Belanda, bangsa Indonesia berada dalam hegemoni penjajah yang tidak sebentar. Antonio Gramsci menjelaskan bahwa kekuasaan yang menindas berupaya mengusai seluruh keadaaan melalui cara yang paling kuat yaitu hegemoni, baik dalam tataran nilai ataupun tindakan. Intelektual dari Italia ini mengungkapkan berbagai contoh hegemoni dalam catatannya (Selection from the Prisons Notebooks), yang menyatakan hegemoni bisa mempengaruhi semua aspek kehidupan.

Selama puluhan atau ratusan tahun Indonesia berada dalam lingkar penjajahan tersebut, banyak korban berjatuhan, menjadikan masyarakat pribumi abdi (pelayan) tetap mereka, disuruh dan dipaksa untuk memenuhi hajat hedonis, banyak kerugian yang diderita bangsa ini, sehingga tak jarang kita saling bunuh hanya untuk sesuap nasi.

Ketika carut marut bangsa ini tiada ujung, ketika semua orang bungkam ketakutan, maka lahirlah trio macan Indonesia yang akan membebaskan dan memerdekakan bangsa Indonesia, mereka adalah Soekarno, Hatta, dan Syahrir yang ketiganya dipertemukan dalam satu panggung perjuangan kemerdekaan, untuk melawan kolonialisme dan imperialisme, mereka bersahabat, berkongsi, berbeda pendapat, dan mungkin menjadi rival.

Dalam buku Soekarno-Hatta-Syahrir karya M. Romandhon MK ini, menyuarakan kiprah dan keteladananan trio macan Indonesia. dipadukan dalam bingkai kemerdekaan, tiga tokoh besar ini telah berkontribusi besar terhadap lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

            Bapak bangsa (Fouding Fathers) Soekarno misalnya, dia seorang yang genius, paham seni, orator ulung, kosmopolitan, nasionalis, islamis, rendah hati meski di atas podium laksana singa, dan memiliki hubungan sosial yang sangat baik kepada teman, keluarga, dan dalam diplomasi ke Negara lain. Karakter hebat itu dia peroleh dari masa kemasa, baik ketika dia belajar ke kakeknya di Tulung Agung, belajar di Eerste Inlandse School (EIS), Europeesche Lagere School (ELS), Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya, sehingga waktu itu ia kenal seorang guru orasinya Tjokroaminoto, selanjutnya dia belajar di Technische Hoge School (THS) atau yang dikenal saat ini adalah Instiut Teknologi Bandung (ITB). (hal. 28).

            Ada dua fase penting dalam proses pergerakan kemerdekaan yang dilalui oleh Soekarno. Pertama, tatkala ia menggembleng diri di Surabaya, tepatnya pada sang guru Tjokroaminoto. Di kediaman Tjokroaminoto inilah Soekarno menyerap banyak hal tentang teori-teori politik kala itu. Fase kedua, ketika ia hijrah ke Bandung, di tempat barunya inilah Soekarno banyak memperoleh pelajaran mengenai sosialis-demokrat, bahkan demokrat radikal Belanda. Situasi yang demkian ini menimbulkan semangat yang membara dalam diri Bung Karno. Persinggungannya dengan Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker membawanya pada cita-cita untuk mewujutkan mimpi tentang kesatuan Indonesia. (Hal. 47)

            Sedangkan Founding Fathers Mohammad Hatta adalah salah satu tokoh penting dalam melahirkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Semangat dan perjuangannya untuk tanah air tercinta menjadi spirit yang tak pernah padam. Ia adalah inspirasi terbesar abad 20 bagi bangsa Indonesia.

            Kiprah Hatta untuk kemerdekaan Republik Indonesia sungguh sangat luar biasa besar. Bersama Soekarno, Hatta melakukan berbagai diplomasi kenegaraan untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Puncaknya pada 9 Agustus 1945, Hatta dan Soekarno diminta datang ke Dalat, yakni tempat kedudukan Jendral Terauchi, panglima angkatan perang Jepang di Asia Tenggara. (Hal. 89)
           
            Selain seorang negarawan, Hatta juga dikenal sebagai pemikir yang multitalenta, karena cakupan pemikirannya amat beragam. Mulai dari kebangsaan, pendidikan, ekonomi, filsafat, hingga hukum tata Negara. Dalam mengurai konstruksi pemikiran Hatta, setidaknya ada dua aspek penting. Pertama, tentang pemikirannya mengenai konsep kebangsaan. Kedua, mengenai pemikirannya tentang ekonomi kerakyatan.

            Sutan Syahrir sendiri adalah seorang diplomat ulung yang pernah dimiliki bangsa ini, ia juga seorang edukator sejati dan pemimpin muda yang selalu menyuarakan api revolusi. “Hidup yang tak dipertaruhkan, adalah hidup yang tak dimenangkan”, demikian kata-kata bijak yang sering didengungkan Syahrir. Syahrir merupakan tokoh nasional yang sangat erat kaitanyya dengan Soekarno dan Hatta. Mereka ibarat dua sisi mata uang, berbeda namun tetap satu bingkai yang sama.

            Ketiga-tiganya memiliki corak dan gaya berpikir yang berbeda. Soekarno yang karismatik dan juga orasinya yang mampu membuat nyali musuh menciut, begitu halnya Hatta, ia adalah sosok negarawan yang flamboyan dan juga seorang pemikir genius sekaligus rela mati demi kebenaran, sementara Syahrir adalah diplomat ulung dan mempunyai jiwa patriot yang sangat tinggi. Ketiganya adalan representasi paripurna dari (trio macan Indonesia) yang selalu disegani oleh bangsa Indonesia bahkan pemimpin-pemimpin dunia.

            Maka buku ini hadir untuk menelusuri jejak historisitas Founding Fathers Indonesia, dan mempertemukan trio macan ini dalam bingkai kemerdekaan, buku ini juga sebagai penelusur kembali sengketa dan kiprah dari ketiga tokoh pejuang/bapak bangsa. Akhirnya, selamat membaca.!



Kutub 2015
           



Share:

0 komentar:

Copyright © LAJANG KEMBARA | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com