Kamis, 14 Juli 2016

Kembalikan Peradaban Islam di Eropa



Judul Buku   : Peradaban Islam yang Terlupakan
Penulis          : Churyha El Khadiri
Cetakan         : I, Februari 2015
Penerbit        : Araska
ISBN               : 978-602-300-082-1
Tebal              : 14, 20,5 cm, 240 Halaman
Peresensi       : Khairul Mufid Jr*


Menyimak kejayaan Eropa sekarang, dengan keberhasilannya yang memukau, sejatinya tidak bisa terlepas dari pengaruh Islam pada abat ke 711 Masehi/93 Hijriah, dimana pada masa itu Islam masuk membawa perubahan dan pencerahan di bawah bayang-bayang penguasa Bani Umayah (Khalifah Al-Walid ibn Adbul Malik) dan Turki Ustmani (Sultan Muhammad al-Fatih).



Sejarah Peradaban Islam Eropa dimulai dengan  beberapa jalan,  yakni jalan barat (dari Afrika Utara ke Semenanjung Liberia), jalan tengah (dari Tunisia menuju semenanjung Apenia), dan jalan timur (dari Konstantinopel ke kota Wina di Austria). Sehingga pada waktu itu, Islam tumbuh dan berkembang biak secara baik, dengan ekspansi kekuasaan yang lebih besar dan kuat. Maka pantaslah waktu itu Islam hidup sejahtera di beberapa di dataran Eropa; seperti Cordoba, Vienna, dan Konstantinopel. Tiga kota besar yang menjadi lumbung Islam di Eropa.

Maka pada buku yang ditulis Churyha El Khadiri ini, mengkaji dan membedah seluk-beluk peradaban Islam di tiga kota dataran Eropa yakni; Cordoba, Vienna, dan Konstantinopel. Tiga kota tersebut adalah wajah dari kemajuan Islam yang pernah menggema.

Peradaban Islam di Cordoba

Pada saat pemerintahan Khalifah Bani Umayyah, Cordoba menjadi Ibu Kota Spanyol di bawah pemerintahan Khalifah Islam dan dikenal tak ada tandingannya di Eropa dalam hal kemajuan peradabannya. Cordoba pada saat itu juga dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan, di mana volume kunjungan ke perpustakaannya mencapai 400.000, sedangkan perpustakaan-perpustakaan besar di Eropa, volume pengunjungnya jarang mencapai angka seribu.

Cordoba juga dikenal sebagai the greatest centre of learning di Eropa, kota-kota lain di Eropa saat itu berada saat berada pada masa kegelapan. Cordoba bagai bunga yang menebar harum di Eropa pada abad pertengahan sebagaimana digambarkan oleh penulis Lane-Poole sebagai the wonders of the world (keajaiban dunia).

Saat Cordoba berada di puncak kejayaannya (abad ke 9 dan 10 M), terdapat lebih dari 200.000 rumah di dalam kotanya diikuti oleh banyaknya jumlah Masjid yaitu sebanyak 600 Masjid, 900 pemandian, 50 rumah sakit, dan sejumlah pasar besar yang menjadi pusat perdagangan dan sentra perekonomian.

Hingga kini, ada beberapa peninggalan di masa keemasan Cordoba yang masih ada; Masjid Cordoba (Le Mezquita), Medina Azzahara, Toledo, dan peninggalan lainnya yang masih di rawat baik. Peninggalan-peninggalan peradaban Islam yang menjadi saksi mata sejarah Islam di Cordoba.

Peradaban Islam di Konstantinopel

Konstantinopel, Kota yang hari ini dikenal dengan nama Istambul, Turki, dulunya berada di bawah kekuasaan Byzantium yang beragama Kristen Ortodoks. Tapi tahun 857 H/1453 M, kota dengan benteng legendaris tak tertembus itu akhirnya runtuh di tangan Sultan Muhammad al-Fatih, sultan Ke-7 Turki Utsmani.

Peradaban Islam pada kesultanan al-Fatih berkontribusi besar bagi peradaban Islam Eropa. Jejak peradaban Islam di Konstantinopel (Istambul) yang peling menonjol adalah di bidang militer, perkembangan intelektual dan arsitektur berkembang dengan sangat pesatnya.

Seperti kalau dicontohkan, para intelektual terkenal pada masanya; Mustafa Ali, Evliya Chelebi, Arifi, Dau Inthaqy, dan Salahuddin bin Salamah Qaliyuby. Atau dari kejayaan di bidang arsitektur; Hagia Shopia (gereja yang dialihfungsikan menjadi Masjid), Rumeli Hisari, Masjid Sultan Sulaiman, istana Topkapi, Masjid Sultan Ahmet, Istana Dolmabahce,dan Kapalicarsi. Dan masih banyak peninggalan di masa keemasan peradaban Islam lainnya di Konstantinopel.

Peradaban Islam di Vienna (Wina)

Meskipun tidak segemuruh Islam di Cordoba dan Konstantinopel, Vienna bukan berarti tidak ada peradaban Islam di kota indah tersebut. Undang-undang tahun 1867 menjamin kebebasan bagi semua agama di kerajaan. Hal ini memudahkan umat Muslim membangun Masjid.

Pada tahun 1887, Masjid pertama dibangun di Vienna (Wina) dengan bantuan Pemerintah kota, sehingga umat Muslim berasimilasi dengan kerajaan Austria-Hungaria. Pada tahun 1912, Muslim Austria secara resmi menjadikan organisasi Islamische Glaubensgemeinschaft (komunitas Imam Islam Austria). Atau peninggalan jejak peradaban Islam yang terukir dalam bentuk Vienna Islamic Center. Dan beberapa peradaban lainnya.

Sehingga dengan geliat Islam yang terus meroket ini, pada tahun 2010 umat Islam meningkat 6% dari keseluruhan penduduk Austria berkisar antara 500 ribu sampai 600 ribu jiwa. Dengan etnis berkisar adalah Turki, Bosnia, Afghanistan, Kurdi, Albania, Iran, Pakistan, dan Serbia.
Namun kini kita hanya bisa mengenang dan menapak-tilasi perabadan Islam Erope yang sempat berjaya tersebut, peradaban Islam Eropa telah hilang ditelan zaman. Kejayaan Islam Eropa berakhir di tangan Ratu Isabella dan Raja Ferdinand yang melakukan permbersihan terhadap segala sesuatu yang berbau Islam dan Yahudi.

Tapi apa pun itu, dalam buku setebal 240 halaman ini, mengajak kita untuk kembali menelusuri jejak-jejak kejayaan Islam di Eropa, pencapaian, kemunduran, dan berbagai ekspansi umat Islam dalam proses islamisasi Eropa secara jamak. Maka dari tiga kota yakni Cordoba, Konstantinopel (Istambul), dan Vienna (Wina) kita bisa mencari titik temu Islam Eropa yang sesungguhnya. Akhirnya, selamat membaca!





Share:

0 komentar:

Copyright © LAJANG KEMBARA | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com