Kamis, 14 Juli 2016

Di Balik Pesona Majapahit



                         Judul              : Di Balik Pesona dan Sisi Kelam Majapahit   (Sebuah Catatan Sejarah yang Tercecer dan disembunyikan)
Penulis          : Krisna Bayu Adji
Penerbit        : Araska
Cetakan         : 1, Maret 2016
Tebal              : 13x20,5, 256 Halaman
ISBN               : 978-602-300-243-6
Peresensi       : Khairul Mufid Jr*

Buku ini secara jamak menceritakan tentang pesona dan sisi kelam Kerajaan Majapahit di abat ke 12 hingga 15 M. Salah satu kerajaan tersohor di Tanah Jawa, Majapahit didirikan oleh Dyah Wijaya di wilayah Hutan Tarik pada 1293 M. Kerajaan yang lahir di kota Tlatah Mojokerto Jawa Timur ini memiliki usia yang cukup tua, sekira 234 tahun antara tahun 1293-1527 M. Dipimpin oleh dua belas raja, 10 laki-laki dan 2 perempuan.


Berbicara tentang sejarah Kerajaan Majapahit, pasti tidak bisa dilepaskan dari beberapa kronik yang layak dicatat dalam sejarah. Yakni Pertama, Tentang lamanya raja-raja Majapahit memerintah dari tahun 1293 sampai 1527 M, serta kejayaan Majapahit yang ditandai dengan gagasan dan realisasi penyatuan wilayah Nusantara dalam bingkai spirit Sumpah Palapa Gajah Mada pada pemerintahan Tribhuwana Wijayatunggadewi, hingga berlanjut pada pemerintahan Hayam Wuruk (Maharaja Sri Rajasanagara atau Ayam Terpelajar). (Hal. 26)

Majapahit mencapai puncaknya pada masa kepemimpinan Hayam Wuruk. Dengan bantuan Mahapatih Gajah Mada Majapahit menguasai lebih banyak wilayah, Majapahit melancarkan serangan laut ke Palembang yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Sriwijaya, dan menaklukkan Kerajaan Minangkabau. Menurut kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit hingga meliputi Sumatera, Semenangjung Malaya, Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku Papua, dan sebagian kepulauan Filipina. Majapahit juga memiliki hubungan harmonis dengan Campa Kamboja Siam Birma bagian selatan Vietnam, bahkan pernah mengirim duta-duta ke Tiongkok.

Kedua, Krisna Bayu Adji (penulis) juga mengulas di awal buku ini, tentang masa keemasan Majapahit yang ditandai dengan penempatan peran wanita setara dengan kaum pria. Fakta yang menunjukkan bahwa Majapahit telah menjunjung tinggi spirit emansipasi wanita ini adalah dengan tampilnya Tribhuwana Wijayatunggadewi sebagai raja Majapahit III (1328-1350 M) dan Sri Suhita sebagai raja Majapahit IV (1429-1447 M).

Ketiga, tentang masa surut dan kelam Majapahit yang diwarnai dengan munculnya perang, kudeta, dan bencana alam yang lambat laut meluluhlantakkan Kerajaan Majapahit semenjak masa pemerintahan Hayam Wuruk hingga pemerintahan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya.

Fenomena kegemilangan Majapahit laksana gunung es, sesudah mencapai puncak pada abad ke-14 kekuasaan Majapahit berangsur-angsur meleleh dan memudar. Semenjak Perang Bubat antara Kerajaan Galuh dan Majapahit, kekuasaan Hayam Wuruk itu mulai memudar. Terlebih saat lengsernya Patih Amangkubumi Gajah Mada dari istana, serta terjadinya perang saudara antara Wikramawardhana (Istana Majapahit barat) dengan Bhre Wirabhumi (Istana Majapahit timur) pada tahun 1404. Atau dikenal dengan perang Paregreg. (Hal.35)

Gejolak perang saudara tersebut ternyata tidak hanya menimbulkan kerugian harta, benda, dan nyawa; tapi juga membawa kerugian yang sangat luar biasa dengan lepasnya beberapa wilayah di luar Jawa satu persatu.

Selain perang Paregreg, berbagai bencana tampaknya menjadi fenomena atas kemunduran Majapahit. Bukan hanya bencana kelaparan (1426 M) yang mengakibatkan banyak orang meninggal, tapi juga bencana gempa bumi dan gunung meletus pada pemerintahan Dyah Kertawijaya (1447-1451 M). Itupun diperparah dengan peristiwa pembunuhan penduduk Tidung Gelating oleh Bhre Paguhan (putra Bhre Tumapel).

Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15 pengaruh Majapahit di seluruh nusantara mulai berkuarang. Pada saat bersamaan sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan agama Islam yaitu kesulatanan Malaka mulai muncul di bagian barat Nusantara. Catatan sejarah dari Tiongkok Portugis (Tome Pires) dan Italia (Pigafetta) mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus penguasa dari kesultanan Demak antara tahun 1518 dan 1521 M.

Eksistensi Majapahit sebagai barometer kerajaan di Pulau Jawa itu pun berakhir, manakala kekuasaan Dyah Ranawijaya dihancurkan oleh pasukan Jin Bun dari kesultanan Demak pada tahun 1527 M. Pada saat itulah kemudian muncul kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berpusat di Demak dengan Raja Sultan Jin Bun (Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama).

Di bab terakhir buku ini, juga dilengkapi lampiran lengkap Kakawin Nagarakretagama (negara dengan tradisi atau agama yang suci). Selesai digubah oleh Mpu Prapanca yang diduga bernama asli Dang Acarya Nadendra pada bulan Aswina tahun Saka 1287 (September-Oktober 1365 M). berikut salah satu contoh kakawin tersebut; “Om Awignam Astu Namas Sidam” sebuah hasil karya sastra yang diciptakan semasa pemerintahan Hayam Wuruk.

Melalui buku ini kita bisa menguliti satu persatu borok-borok di balik pesona Majapahit, buku ini juga disajikan dengan bahasa runtut, renyah, dan memikat hati. Kita akan mendapatkan pengetahuan lengkap tentang Kerajaan Majapahit yang diagungkan dalam sejarah, namun tak luput dari segudang cela dan noda. Akhirnya Selamat Membaca!
Share:

0 komentar:

Copyright © LAJANG KEMBARA | Powered by Blogger
Design by SimpleWpThemes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com